Sunday, August 24, 2008

Supriyadi Masih Perlu Dicari

Selasa, 12 Agustus 2008 | 20:44 WIB



YOGYAKARTA, SELASA
- Perjalanan hidup Supriyadi yang telah ditetapkan sebagai pahlawan
nasional karena telah memimpin pemberontakan Pembela Tanah Air atau
PETA di Blitar tahun 1945, hingga kini masih menjadi misteri. Banyak
orang kemudian menyatakan diri sebagai Supriyadi. Masih ada ruang
kosong dalam sejarah bangsa tentang kisah hidup dari Supriyadi yang
mengusik rasa ingin tahu dari masyarakat

Dalam buku bertajuk Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno,
ahli sejarah dari Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata
Dharma, Baskara T Wardaya SJ menulis hasil wawancara dari Andaryoko
Wisnuprabu (88) yang mengaku adalah Supriyadi. Melalui buku tersebut,
Baskara ingin mendorong wacana lebih lanjut tentang Supriyadi dan
pengaruhnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Kalaupun
nantinya dia ternyata bukan Supriyadi, keterangannya tetap layak
disimak karena mampu memberi informasi untuk melengkapi narasi atas
peristiwa krusial yang terjadi di bangsa ini. Buku ini berusaha memberi
salah satu kemungkinan jawaban tentang misteri Supriyadi dengan
menggunakan bahan sejarah lisan," kata Baskara saat ditemui di kampus
Pascasarjana Sanata Dharma, Selasa (12/8).

Sejarah, lanjut
Baskara, tidak cukup hanya ditulis berdasarkan bahan tertulis. Apalagi
jika bahan yang dipakai dalam penulisan sejarah tersebut melulu berasal
dari tokoh-tokoh pemenang di lapisan masyarakat atas. Suara dari mereka
yang tersembunyi serta terbungkam dari sejarah seperti pernyataan
Andaryoko perlu diwadahi. "Pernyataannya menjadi sumber pelangkap atau
materi alternatif bagi narasi historis seputar masa kepemimpinan
Sukarno," tambahnya.

Misteri Supriyadi semakin mengundang rasa
ingin tahu karena pada tahun 1945, Presiden Sukarno menunjuk Supriyadi
sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinetnya yang pertama.
Selanjutnya Supriyadi juga ditunjuk sebagai panglima tentara keamanan
rakyat. Padahal tidak ada kejelasan tentang hidup dan matinya
Supriyadi. Pemerintah orde baru kemudian menganggap Supriyadi telah
mati dengan menetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1975.

Menurut
Baskara, kehadiran Andaryoko tidak hanya penting, tetapi juga menarik
karena bisa memutus mitos seputar keberadaan Supriyadi. Pernyataan
Andaryoko bisa membuka kesempatan untuk melihat sejarah dari prespektif
masyarakat, bukan monopoli penguasa. "Jangan cepat membungkam suara
yang berbeda. Beri kesempatan bersuara, termasuk jika nantinya ada
Supriyadi lain, yang diperlukan hanya kajian akademis," kata Baskara.

Baskara
mengaku awalnya tidak percaya dengan pernyataan Andaryoko. Namun
Andaryoko berbeda dengan tokoh lain yang mengaku sebagai Supriyadi.
Tokoh lain hanya menokohkan Supriyadi sebagai tokoh mistis dengan
sentrum pada tokoh Supriyadi. Namun tokoh lain itu tidak bisa
mengaitkan keberadaan Supriyadi dengan konteks sejarah yang lebih luas.

Andaryoko
justru memaknai Supriyadi dalam konteks sejarah yang lebih luas. Dia
sekaligus menjadi bukti dampak dari pembungkaman tidak langsung oleh
pemerintah yang berkuasa. Dari awalnya takut kepada Jepang, Andaryoko
kemudian memilih bungkam di zaman orde baru karena takut kedekatannya
dengan Sukarno membawanya ke penjara.

Johny Setiawan, satu-satunya WNI di Laboratorium Jerman yang menemukan planet baru


Minggu, 24 Agustus 2008 ]

Belajar Astronomi di Jerman, Kerja di Chile, Pensiun di Indonesia

Tak sulit mengenali Dr rer nat Johny Setiawan. WNI yang sudah 17 tahun tinggal di Jerman itu selalu tampil plontos, bercelana pendek, dan kaus tanpa lengan. Sandal jepit juga selalu menemani langkahnya. Padahal, profesi dan prestasinya tak main-main, yakni astronom dan penemu lebih dari sepuluh planet baru.

AISYAH, Surabaya

Johny Setiawan memakai baju formal jika ada acara resmi saja. Begitu acara selesai, dia langsung ganti baju dengan setelan andalannya tersebut. "Yah, kan dari tadi sudah pakai baju formal. Di luar acara harus beda dong. Biar santai,'' ungkapnya saat ditemui di Bali pekan lalu. "Lagi pula saya memang tidak ingin terlihat seperti scientist. Biar orang tidak takut dengan saya dan mereka bisa mengenal saya yang sesungguhnya,'' tambahnya.

Meski telah 17 tahun merantau ke negeri Jerman, Johny masih fasih berbahasa Indonesia. Bukan hanya itu. Pria kelahiran Jakarta 16 Agustus 1974 tersebut mengaku telah menguasai empat bahasa dengan lancar, yakni Inggris, Spanyol, Indonesia, dan Jerman.

"Tempat saya tinggal dan orang-orang di sekeliling saya membuat saya tertuntut untuk menguasai keempat bahasa tersebut,'' ungkap astronom yang juga lihai memasak itu.

Bahasa Indonesia tentu saja dikuasai sejak lahir, sementara bahasa Jerman digunakan di tempat tinggalnya sekarang, Heidelberg, Jerman. "Bahasa Inggris biasanya saya gunakan untuk mengajar dan bahasa Spanyol digunakan jika saya ke Chile untuk melakukan penelitian,'' ungkapnya.

Perusahaan Max Planck Institute for Astronomy tempat Johny bekerja memang terletak di Jerman, tapi laboratoriumnya berada di Chile. "Ini karena langit di Chile sangat bagus untuk melihat bintang dan planet-planet. Beda dengan langit Indonesia, warnanya merah karena terpolusi,'' ungkapnya. Otomatis, tiga bulan sekali dia harus bolak-balik Chile - Jerman untuk melakukan riset.

Meski menguasai empat bahasa, penyuka seni itu mengaku tidak kesulitan untuk memisahkan bahasa yang dikuasai. "Yah, semacam ada tombol di otak saya yang bisa disetel jika saya mau pindah menggunakan bahasa apa. Saya belajar untuk mengorganisasikan keempat bahasa yang saya kuasai,'' ungkapnya. Dia menyatakan bahwa hal inilah yang membuat tata bahasanya tidak pernah tercampur-campur tiap bicara.

"Selain itu saya selalu melatih menggunakan empat bahasa tersebut dengan porsi yang sama,'' jelasnya. Jika tiga bahasa asingnya biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahasa Indonesianya dilatih melalui telepon dengan keluarga yang masih di Jakarta atau dengan mengutak-atik friendster miliknya. "Kalau semuanya berjalan seiringan, pasti bisa lancar semuanya,'' jelasnya.

Johny mengungkapkan, sejak kecil dirinya memang bercita-cita menjadi astronom. Ini bermula ketika ayahnya mulai sering mengajaknya ke atap rumah untuk melihat bintang-bintang tiap petang. "Saat itu di Jakarta masih bisa lihat bintang tiap malam karena langitnya masih bersih, tidak seperti sekarang,'' jelasnya. Kebiasaan inilah yang membangkitkan minatnya akan ilmu astronomi. "Waktu itu ayah saya sering bercerita yang aneh-aneh tentang bintang-bintang tersebut. Dia juga memberi nama aneh-aneh pula. Setelah saya dewasa, saya baru tahu bahwa apa yang dibicarakan ayah dulu salah semua,'' sambungnya mengenang masa kecilnya sambil tertawa.

Meski mengidamkan profesi astronom, Johny mengakui sejak kecil justru tidak terlalu suka dengan pelajaran fisika yang menjadi elemen penting ilmu mengamati benda-benda di langit itu. Menurut dia, banyak pertanyaan di fisika yang aneh-aneh dan cenderung tidak perlu. "Saat itu saya malah lebih suka pelajaran sejarah. Jadi, saya suka sekali menghafalkan sejarah-sejarah kerajaan dan tahun-tahun berdiri sekaligus runtuhnya kerajaan tersebut,'' ungkapnya.

Namun, pelajaran kesukaannya langsung berbalik arah ketika dia menginjakkan kaki di Jerman.

Johny menamatkan S-1 dan S-3-nya di Freiburg, Jerman. Penyajian dosen yang menarik ditunjang fasilitas lengkap membuat Johny maniak dengan segala sesuatu yang terkait astronomi. Karena itu, dia tercatat sebagai lulusan termuda di Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman. Di universitas yang sama, Johny meraih gelar S-3 dan menjadi ilmuwan postdoctoral di Departemen Planet dan Formasi Bintang Max Planck Institute for Astronomy (MPIA). Menurut Johny, dia satu-satunya ilmuwan non-Jerman di antara tiga peneliti planet lain di MPIA.

Sekarang ini dengan adanya teleskop modern bukan hal sulit menemukan bintang-bintang yang bertebaran di jagat raya ini. Waktu menemukan planet pertama, HD 47536 b dan c nama Johny Setiawan belum melambung seperti sekarang ini. Dia baru banyak dibicarakan di media masa saat mengumumkan penemuan planet kedua, HD 11977 pada 2005. HD adalah kependekan dari Henry dan Draper, nama astronom AS yang menyusun katalog perbintangan. Sedangkan angka-angka menunjukkan satu posisi tertentu di jagat raya, sementara huruf kecil b dan c artinya planet pertama dan kedua. Bintang induk sendiri diberi tanda huruf besar A. "Saat itulah orang baru tahu bahwa ada orang Indonesia yang berhasil menemukan planet,'' ungkapnya. Sejak saat itu tawaran wawancara mengalir deras padanya. Media-media elite seperti The New York Times juga pernah menginterviewnya.

Sejak mengamati bintang-bintang di jagat raya, Johny telah menemukan lebih dari 10 planet. Lima di antaranya sudah dipublikasikan. Yang tiga lagi segera dipublikasikan. Sementara yang lain dalam tahap penelitian.

Dari sekian banyak temuannya, yang paling berkesan adalah planet TW Hydrae b. Pasalnya, itu satu-satunya planet temuannya yang tidak menggunakan angka-angka seperti yang lain. "Selain itu, ini adalah planet termuda yang saya temukan. Planet ini juga dalam kontroversi karena masih banyak yang belum percaya. Pembuktian adanya planet ini kan secara tidak langsung,'' ungkapnya. Penemuan planet ekstrasolarnya (planet di luar sistem tata surya) dipublikasikan dalam majalah Nature pada 4 Januari 2008.

Temuan-temuan itu, menurut Johny, berguna untuk mencari kemungkinan adanya bumi lain, selain bumi kita sekarang ini. "Jika ini benar ada, cara pandang kita selama ini akan berubah total. Kita tidak sendirian di dunia ini,'' ungkapnya. "Menurut saya pribadi, alien atau makhluk lain di ruang angkasa itu memang ada. Itu bukan hal yang imposible,'' terang pria berkepala agak gundul itu.

Meski sekarang cukup terkenal, dia mengaku tidak ada yang berubah dari hidupnya. "Saya tidak punya waktu untuk berubah. Terlalu sibuk mengadakan penelitian dan yang lain,'' ujarnya.

Karena jadwal begitu padat, Johny biasa bekerja pukul 18.00 hingga 07.00. Dia juga belum punya rencana untuk balik ke Indonesia. "Pekerjaan saya di Jerman masih banyak. Jika saya pensiun atau sudah tidak punya pekerjaan lagi, mungkin saya akan balik ke sini (Indonesia, Red),'' jelasnya. Namun, jika saat ini memang ada pekerjaan di Indonesia, tidak menutup kemungkinan dia akan kembali.

Meski jauh dari tanah air, itu tidak membuat Johny lupa akan negaranya. Untuk mempromosikan Indonesia sekaligus menyalurkan hobi, dia membuka katering masakan Indonesia. "Saya kan suka masak dan bisa masak hampir semua masakan tradisional Indonesia dan beberapa masakan internasional,'' terangnya.

Sampai saat ini, pria yang telah berusia 34 tahun itu belum punya rencana menikah. (*/kim)

Mencari Supriyadi


[ Kamis, 14 Agustus 2008 ]






Kian Yakin setelah Fasih Berbahasa Belanda dan Jepang


Andaryoko Wisnuprabu, warga Semarang, bikin geger setelah
mengaku sebagai Supriyadi, pahlawan nasional yang lebih dari 60 tahun
menghilang. Apa kesan Dr Baskara T. Wardaya, penulis buku Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, tentang sosok orang yang memberi inspirasi bukunya itu?


ERWAN WIDYARTO, Jogja


''Dia orang yang jujur dan baik,'' kata Baskara T. Wardaya saat ditanya kesannya tentang Andaryoko Wisnuprabu.

Sejarawan yang akrab disapa Romo Baskara itu yakin bahwa Andaryoko yang kini berusia 88 tahun tersebut adalah shodanco
Supriyadi. Sejarawan lulusan Marquette University, Wisconsin, AS,
tersebut juga mengaku bahwa pengakuan Andaryoko adalah hal yang sangat
penting bagi penulisan sejarah Indonesia.

''Benar atau tidak bahwa dia adalah Supriyadi, apa yang disampaikan Andaryoko tetap penting,'' katanya kepada Radar Jogja (Grup Jawa Pos) kemarin (13/8).

Sebagai
sejarawan, Romo Baskara memang tidak boleh percaya 100 persen bahwa
Andaryoko adalah Supriyadi yang memimpin pemberontakan Peta (Pembela
Tanah Air) di Blitar pada 1945. ''Untuk percaya 100 persen, harus ada
fakta keras (hard fact) yang benar-benar faktual,'' tegasnya.

Karena
itu, sejumlah verifikasi pun dilakukan Baskara. Langkah itu dilakukan
untuk menguatkan serta meyakinkan dirinya bahwa Andaryoko Wisnuprabu
punya kaitan dengan sejarah Peta maupun sejarah Indonesia.

Misalnya,
Andaryoko punya samurai di rumahnya, punya foto-foto masa lalu, dan
bisa berbahasa Jepang. ''Sering istilah Jepang yang dia pakai dan saya
tulis salah dalam draf langsung dia koreksi,'' cerita sejarawan yang
menawarkan sejarah lisan (life history) itu.

Baskara juga
mengecek data dengan Mayjen Khaerul Fathullah. Orang itu memberikan
penegasan lewat surat bermeterai bahwa Andaryoko adalah Supriyadi,
yaitu orang yang memimpin pemberontakan Peta di Blitar, 14 Februari
1945.

Fakta makin kuat bahwa Andaryoko adalah Supriyadi
ditunjukkan Andaryoko saat bertamu ke rumah Baskara di Jogja.
Dikatakan, 1 Juli 2008, Andaryoko ke Jogja. Dia lupa bercerita satu hal
kepada Baskara yang memang sedang menyusun buku Mencari Supriyadi.
''Nah, saat mampir ke rumah saya itu, dia bicara dengan seorang pastor
Belanda di rumah saya dengan bahasa Belanda,'' tegasnya.

Pastor
itu berusia 90 tahun atau selisih dua tahun dari Andaryoko yang
kelahiran 23 Maret 1920. Faktor bahasa tersebut -terutama Jepang dan
Belanda- tidak dikuasai oleh ''mereka'' yang selama ini mengaku sebagai
Supriyadi. Dalam sejarah dituliskan Supriyadi pernah bersekolah di MULO
di Kota Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Andaryoko, di Magelang, Supriyadi tidak bersekolah di MULO, tapi MOSVIA (Middelbare Opleidingschool voor Indische Ambtenaren), sehingga dia bisa berbahasa Belanda.

Baskara
juga mengaku bahwa Supriyadi adalah nama kecil Andaryoko Wisnuprabu.
Dia biasa dipanggil Sup atau Mas Pri. Hanya, ketika pada Mei-Juni 1945
bertemu Wakil Residen Semarang Wongsonegoro dan ditugaskan bekerja di
Keresidenan Semarang, dia diminta berganti nama. Wongsonegoro bersedia
menerima, asalkan nama Supriyadi diganti. Alasannya, kalau tidak
diganti, Wongsonegoro-lah yang akan mendapat kesulitan dari pihak
Jepang karena menerima seorang pemberontak.

''Supriyadi pun
mengganti namanya dengan Andaryoko Wisnuprabu itu. Juga, memelihara
kumis. Tapi, kalau ke Jakarta dan bertemu Bung Karno, dia tetap
Supriyadi dan biasa dipanggil Sup,'' ungkap Baskara.

Baskara
''mendapatkan'' Andaryoko secara kebetulan lewat Anton Wahyu, manajer
Toko Buku Gramedia di Semarang, akhir Mei 2008. Manajer toko itu
menjadi wakil ketua panitia pentas ketoprak kolosal Putri China
karya Romo Sindhunata. Saat bertemu tokoh-tokoh budaya Semarang, dia
diminta menemui sesepuh mereka yang disebut sebagai Eyang Andar. Eyang
Endar itu ketua umum Perkumpulan Kesenian Sobokarti.

Saat ketemu itulah terungkap penuturan sejarah yang detail seputar sodancho
Supriyadi. Diceritakan bahwa Supriyadi itu masih hidup dan berkiprah
aktif di tengah masyarakat. Mendapat penuturan semacam itu, sang
manajer toko menghubungi Baskara yang memang menaruh perhatian pada
sejarah Indonesia periode 1945 -sampai saat ini.

Mulailah
Baskara melakukan wawancara dan verifikasi terhadap Andaryoko.
Termasuk, mengajak ke tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat
persinggahan Supriyadi sewaktu berjuang dulu.

Meski yakin
penuturan Andaryoko jujur dan benar, Baskara menegaskan bahwa dirinya
tidak berpretensi untuk mengklaim bahwa Andaryoko itulah Supriyadi.
Karena itu, dia menegaskan bahwa buku yang ditulisnya diberi judul Mencari Supriyadi, bukan Ini Dia Supriyadi.

''Saya
juga wawancarai semua pelaku sejarah, termasuk yang mengaku diri
sebagai Supriyadi. Silakan saja dicemati,'' ujar Romo yang pernah
mengajar di Xavier High School di Mikronesia, Kepulauan Pasifik,
tersebut.

Tugas dirinya sebagai sejarawan, kata dia, hanya ingin
mengingatkan bahwa sejarah jangan dimononaratifkan. Jangan ada monopoli
ide, monopoli narasi dalam sejarah.

''Kehadiran narasi Andaryoko
sebagai pelaku sejarah dan sebagai Supriyadi harus diletakkan dalam
kepentingan sebagai narasi sejarah yang melengkapi narasi-narasi
sejarah yang sudah ada. Biarkan masyarakat berpikir dan mencermati mana
narasi yang bisa dipercaya dan benar. Sejarah itu harus kaya
perspektif. Harus multinarasi,'' urainya.

Yang jelas, kata
Baskara, narasi yang disampaikan Andaryoko itu konsisten. Dia bisa
menunjukkan tempat-tempat di Blitar sebagai lokasi pemberontakan dulu.
Dia bisa menceritakan itu semua dengan komplet.

Baskara juga menegaskan bahwa Andaryoko itu berbeda dari orang-orang yang selama ini mengaku sebagai Supriyadi.

Setidaknya,
kata dia, ada tiga perbedaan jelas. Pertama, orang yang mengaku
Supriyadi selalu mengklaim sebagai tokoh mistis atau tokoh spiritual.
''Tapi, Andaryoko tidak. Dia rasional. Tidak mistis, bisa hilang dan
seterusnya,'' katanya.

Kedua, orang yang selama ini mengaku
sebagai Supriyadi selalu menempatkan dirinya sebagai pusat. Dia sakti
dan penting. Andaryoko tidak. ''Andaryoko hanya bagian kecil dari
sejarah Indonesia. Dia hanya orang yang punya ide besar tentang
Indonesia. Dan dia hanya ingin sejarah Indonesia diluruskan. Bahkan,
dia menegaskan, kalau ada yang mengaku Supriyadi, dipersilakan,''
ungkap Baskara.

Yang ketiga, karena orang yang mengaku Supriyadi
biasanya menjadikan dirinya sebagai pusat, menjadi sentral, pengetahuan
mereka pun hanya tentang lokalitas di mana dia berada. Andaryoko
berbeda. Dia bisa memberikan penjelasan arus dinamika sejarah Indonesia
secara baik. Dia bisa menunjukkan lokasi pemberontakan di Blitar dan
bisa menjelaskan saat bersama Bung Karno.

Bahwa fakta-fakta
sejarah Indonesia yang diceritakan Andaryoko berbeda dari fakta sejarah
formal yang telah ada selama ini, menurut Baskara, itu bukan sesuatu
hal yang harus dikontroversikan. Misalnya, fakta Supersemar di Istana
Bogor, penyusunan naskah Proklamasi, maupun pengerek bendera Merah
Putih saat kemerdekaan.(el)