Sunday, November 9, 2008

BBC : Profile: Amrozi

One week before a court sentenced him to death for his part in the Bali bombing, Amrozi appeared before the media to sing a song.Amrozi attends Ramadan prayers at Batu prison on Nusakambangan island, Indonesia (01/10/2008)

"Continue the holy struggle, get rid of Zionists, get rid of the Christian filth. God is great, this is my song," he sang, smiling broadly from behind a prison compound's bars.

It was not the first time Amrozi's behaviour had created surprise.

After his arrest in November 2002, his seeming good humour earned him the sobriquet of "the smiling bomber", as well as the vitriol of the press in Australia, where many of the Bali attack's victims lived.

And he surprised police by saying Americans were their intended victims, when Australians were far more likely visitors to the island.

Amrozi bin Nurhasyim was born in 1962 in the sleepy village of Tenggulun, a few miles inland from the coast of East Java, the fifth of 13 children.

Described as something of a black sheep, Amrozi did not do well at school, appearing more interested in motorbikes and girls.

Cars and vehicles on fire after the Bali bombing (13/10/2002)
The Bali blasts killed more than 200 people
His mother, Haji Tariyem, told the BBC that Amrozi was a good boy, who at the time of the Bali attacks was living at home looking after his sick father.

Brother's influence

Villagers in Tenggulun have said that Amrozi left for Malaysia in the late 1980s in search of work, and returned in 1991 with much stronger Islamic beliefs.

While in Malaysia, police said he was reunited with his elder brother, Mukhlas, a deeply religious man and also on trial for the Bali attack.

Amrozi has described Mukhlas as an inspiration to him.

Police said that when Mukhlas returned to Tenggulun, he became more involved in the village's Al Islam boarding school, founded by another of Amrozi's brothers, where about 150 students follow a strictly religious curriculum.

Amrozi is said to have admitted meeting the Muslim preacher Abu Bakar Ba'asyir on several occasions - while Mr Ba'asyir was in exile in Malaysia in the 1990s and more recently after the preacher's return in 1998, when he was invited to speak at the Al Islam school.

Mr Ba'asyir is thought to be the founder and spiritual leader of Jemaah Islamiah, a shadowy, regional network of militants thought to have carried out a number of attacks across South East Asia.

Amrozi angered families of the Bali bombing victims when he was paraded before the media in November waving and laughing, and was quoted as saying that he was "delighted" by the attack because they had destroyed "places of sin".

"With this incident, God willing, many people realised that they had forgotten God and neglected their worship and avoided places of worship," he said.

"Often things we don't like are in fact good for us," he added.

General I Made Mangku Pastika, chief of the investigation, said Amrozi showed no remorse for his involvement.

"He's very calm, very cool... proud of his activities," he said.

Mr Pastika said Amrozi's only regret about the bombing was the fact that most of the dead were Australians rather than Americans.

"He doesn't regret it but he is just unhappy," Mr Pastika added.


Pernyataan Hizbut Tahrir Indonesia Tentang “(Rencana) Eksekusi Mati Amrozi Cs”

Link


Kantor Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Nomor: 144/PU/E/11/08

Jakarta, 06 Dzulqaidah 1429 H/07 November 2008

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Tentang

“ (RENCANA) EKSEKUSI MATI AMROZI CS ”

Islam adalah agama yang dengan sangat tegas melarang membunuh manusia tanpa hak atau tanpa alasan yang dapat dibenarkan oleh syariah. Siapa yang melanggar larangan ini, maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman qishash bila ahli waris korban tidak memaafkan. Dengan cara ini, nyawa manusia secara keseluruhan akan terlindungi dengan sebaik-baiknya.

Demikian juga semestinya terhadap pelalu bom Bali 1 dan bom lainnya yang telah menewaskan ratusan orang, melukai ratusan lagi lainnya dan menghancurkan sejumlah properti. Mereka berhak mendapatkan hukuman yang semestinya. Tapi, siapakah pelaku sesungguhnya dari bom-bom itu? Benarkah Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufran dan kawan-kawannya adalah pelakunya? Memang pengadilan telah memutuskan bahwa mereka adalah para pelaku Bom Bali 1 itu, dan karenanya berhak untuk mendapatkan hukuman mati. Setelah berbagai upaya hukum dilakukan tidak membuahkan hasil, eksekusi hukuman mati terhadap Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufran seolah tinggal menunggu waktu. Meski demikian, pertanyaan tadi tidak serta merta bisa dihilangkan mengingat sejumlah fakta-fakta kontradiktif yang ada.

Berkenaan dengan hal tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama. Benar, mereka memang mengakui telah menyiapkan bom, tapi benarkah bom sangat besar yang meledak di jalan Legian, yang oleh para ahli bom dinilai masuk dalam kualifikasi micronuke, adalah benar-benar bom yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan? Imam Samudera sendiri menyampaikan rasa herannya di depan pengadilan tentang besarnya bom yang meledak, yang itu dikatakan di luar kemampuannya. Imam juga menyatakan rasa kagetnya mendapati mobil yang dipakai dalam aksi itu adalah Mitsubishi L-300 yang dari nomer chassisnya itulah semua terbongkar, padahal katanya dalam rapat terakhir disepakati yang akan digunakan adalah Suzuki Carry.

Bila digunakan analisis hubungan antara motivasi dan aksi, maka semua bom yang meledak sejak dari bom Bali 1 hingga bom Bali 2 sangatlah aneh. Bila itu semua dibuat dalam rangka apa yang sering dikatakan sebagai perang atau perlawanan melawan AS, mengapa tak satupun instalasi penting AS di Indonesia yang terkena?

2. Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, maka disinyalir telah terjadi operasi (intelijen) yang melakukan langkah-langkah 5i, yakni inflitrasi (terhadap kelompok Islam yang memiliki semangat perlawanan), radikalisasi (dipompa untuk lebih bersemangat melawan), provokasi (didorong untuk melakukan tindakan), aksi (digerakkan melakukan tindakan kongkrit berupa pengeboman di sejumlah sasaran) dan stigmatisasi (sehingga tercipta stigma bahwa Indonesia adalah sarang teroris, pelakunya kelompok fundamentalis dari kalangan pesantren). Dan stigma semacam itu sekarang telah terjadi.

3. Pemerintah Indonesia tidak boleh terjebak pada apa yang disebut kampanye war on terrrorism yang didengungkan AS karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam. Mengapa? Bila benar AS dan negara-negara sekutunya sungguh-sungguh berperang melawan terorisme, dan terorisme itu diartikan sebagai setiap orang atau kelompok orang yang dalam mencapai tujuannya menggunakan kekerasan, maka mestinya orang-orang seperti presiden Bush, Ariel Sharon, Tony Blair dan tokoh lainya, dan negara seperti AS, Inggris dan Australia juga negara lain yang jelas-jelas telah menghancurkan Irak dan Afghanistan, juga harus dianggap teroris. Tapi kenyataannya, yang disebut teroris hanyalah orang atau kelompok Islam yang sesungguhnya bertindak melakukan perlawanan terhadap kedzaliman terhadap dunia Islam, sementara negara dan orang-orang yang jelas-jelas memerintahkan melakukan kedzaliman itu justru tidak pernah dipersoalkan.

4. Oleh karena itu, pihak berwajib harus berusaha sungguh-sungguh untuk mengungkap siapa pelaku utama atau master mind dari rangkaian bom yang terjadi di Indonesia. Hanya dengan cara itu, kegiatan yang disebut terorisme bisa dihentikan. Memaksakan mengeksekusi Amrozi cs hanya akan mengalihkan pandangan bahwa seolah merekalah pelaku utama dan sekaligus menutup terungkapnya sang master mind yang pasti terkait dengan program war on terrorism yang digerakkan oleh AS dan sekutunya tadi. Lagi pula, siapa harus bertanggung jawab bila terjadi kekeliruan akibat menghukum orang yang bukan pelaku sebenarnya?

Wassalam,

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/08/pernyataan-hizbut-tahrir-indonesia-tentang-%E2%80%9Crencana-eksekusi-mati-amrozi-cs%E2%80%9D/

HTI Press : Selamat Jalan Wahai Syuhada (Eksekusi Amrozi CS)

Link

HTI-Press - “Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun, adik kami telah pergi. Semoga arwah adik-adik kami dibawa oleh burung-burung hijau ke syurga,” ujar Chozin, kakak kandung kedua Amrozi dan Ali Gufron kepada wartawan, Minggu (9/11/2008).

Tiga terpidana mati kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, Amrozi, Mukhlas alias Ali Ghufron, dan Imam Samudra alias Abdul Azis, menjalani eksekusi pada Sabtu malam (8/11) pukul 23.20 WIB. Menurut beberapa sumber, mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama “Nirbaya” yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama “Nirbaya” yakni berupa perbukitan yang berada sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu. Saat dibawa, ada suara takbir yang terputus. Amrozi cs dikeluarkan dari ruang isolasi dalam kegelapan malam. Mereka dikawal oleh sangat banyak anggota Brimob.

Saat dibawa ke mobil, terdengar teriakan takbir: Allahu Akbar dari tiga terpidana mati. Namun teriakan takbir itu terputus. Sepertinya mereka dibekap. Amrozi cs dibawa ke lokasi eksekusi di Bukit Nirbaya, sekitar 3 KM dari LP Batu. Saat dibawa, hujan mengguyur Nusakambangan

Di kawasan ini, Amrozi dan kawan-kawan menjalani eksekusi di hadapan tiga regu tembak dari Polda Jawa Tengah. Prosesi eksekusi yang dimulai sekitar pukul 23.10 WIB, diawali dengan siraman rohani oleh rohaniwan yang meminta supaya Amrozi dkk menerima dengan ikhlas apa yang dilakukan oleh negara dan dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran.

Selanjutnya jaksa eksekutor, Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, I.B. Wiswantanu membacakan surat perintah pelaksanaan eksekusi dengan didampingi jaksa eksekutor lainnya, Kasubsi Prapenuntutan Kejaksaan Negeri Denpasar Edy Arta Wijaya dan Aspidum Kejati Jateng Monang Pardede.

Tepat pukul 23.20 WIB, setelah surat perintah dibacakan, tiga regu tembak segera menembakkan peluru ke arah Amrozi dkk yang masing-masing terikat pada sebuah kayu dengan kepala tertutup kain hitam.

Sepuluh menit kemudian, Amrozi dan kawan-kawan dinyatakan meninggal, setelah menjalani autopsi oleh tim dokter forensik Polda Jawa Tengah.

Program War on Terrorism AS Kembali Bergulir

Sementara itu, Hizbut Tahrir Indonesa dalam pernyataan persnya menyatakan, meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama bom Bali I. Menurut Hizbut Tahrir Indonesia, memaksakan mengeksekusi Amrozi cs hanya akan mengalihkan pandangan bahwa seolah merekalah pelaku utama dan sekaligus menutup terungkapnya sang master mind yang pasti terkait dengan program war on terrorism yang digerakkan oleh AS dan sekutunya tadi.

Pemerintah Indonesia tidak boleh terjebak pada apa yang disebut kampanye war on terrrorism yang didengungkan AS karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam. Mengapa?

Bila benar AS dan negara-negara sekutunya sungguh-sungguh berperang melawan terorisme, dan terorisme itu diartikan sebagai setiap orang atau kelompok orang yang dalam mencapai tujuannya menggunakan kekerasan, maka mestinya orang-orang seperti presiden Bush, Ariel Sharon, Tony Blair dan tokoh lainya, dan negara seperti AS, Inggris dan Australia juga negara lain yang jelas-jelas telah menghancurkan Irak dan Afghanistan, juga harus dianggap teroris.

Tapi kenyataannya, yang disebut teroris hanyalah orang atau kelompok Islam yang sesungguhnya bertindak melakukan perlawanan terhadap kedzaliman terhadap dunia Islam, sementara negara dan orang-orang yang jelas-jelas memerintahkan melakukan kedzaliman itu justru tidak pernah dipersoalkan. (nl/berbagai sumber)

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/09/amrozi-dkk-telah-dieksekusi/