Saturday, August 2, 2008

Friday, August 1, 2008

Marah Gurunya Dikritik, Murid Cak Nun Ancam Bakar Posko Korban Lapindo


SatuDunia, Jakarta.

Kekerasan masih saja menjadi
alat bagi penyelesaian persoalan di negeri ini. Kali ini, menimpa
aktivis sosial yang mendampingi korban Lapindo di Sidoarjo. Seseorang
yang mengaku sebagai murid Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengancam
hendak membakar posko korban Lapindo di Sidoarjo. Pasalnya, sang murid
merasa tersinggung atas tulisan korban Lapindo di web korban lapindo (http://korbanlumpur.info) yang dinilai memojokan sang guru.


_________________________________________


“Anda memang provokator, bukan korban lumpur mengaku
korban. Siap-siap saja, posko Anda akan kami habisi, kami bakaaaar.....


Saya pembela guru saya Emha Ainun Nadjib yang cara pikirnya
nggak kalian pahami. Lihat nanti endingnya, jangan dilihat sekarang.
Dia punya strategi sendiri...


Awas ya.....! Siap-siap... posko kalian akan kami bakar!”


Kalimat email yang bernada mengancam tersebut di kirimkan kembali
(foward) dari salah seorang pendamping korban Lapindo ke satudunia.net
pagi ini (31/7). Dalam surat ancamannya tersebut sang pengirim email
menggunakan alamat email lapindojaya@gmail.com.


“Kawan2 di posko perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata
salah satu korban Lapindo seperti yang dikutip dalam email tersebut.


Akhir-akhir ini Emha Ainun Najib (Cak Nun) menuai banyak kritik dari
korban Lapindo. Pasalnya, Cak Nun dinilai ikut mempromosikan skema
ganti rugi cash and resettlement. Menurut korban Lapindo, skema rugi cash and resettlement
selain tidak sesuai dengan Perpres 14/2007, skema itu justru merugikan
warga dari sisi sosial maupun ekonomi. “Skema itu dipaksakan, di
lapangan ada indikasi intimidasi yang dilakukan terhadap warga yang
tidak sepakat terhadap skema rugi cash and resettlement,” ujar Suwito, salah satu korban Lapindo di Jakarta (12/7).


Sementara, dalam blog Berantaslapindo’s Weblog, skema cash and
resettlement dinilai hanya sekedar akal-akalan Group Bakrie untuk lepas
dari tanggungjawab. terlebih, rumah yang dijanjikan sebagai tempat resettlement itu adalah perumahan yang dibangun oleh group Bakrie.


“Belum jelas upaya pembayaran dengan skema 20% dan 80%, Lapindo kembali menawarkan skema resettlement
(penempatan kembali) korban Lapindo ke perumahan yang dibangun oleh
group Bakrie. Tentu saja skema yang ditawarkan oleh Lapindo ini
menguntungkan korporasi tersebut. Ibarat mengeluarkan uang dari kantong
kiri untuk kemudian dimasukan ke kantong kanan. Anehnya, akal-akalan
semacam ini juga dibiarkan saja oleh para ‘pangeran’ di
negeri ini,” tulis sesorang dalam blog tersebut.




Penulis: Daus

“Jancuk...!” - Tentang Cak Nun dan Bang Ro'is

Monday, 28 July 2008
Korban Lumpur Lapindo

Meskipun sudah sering, belakangan bahkan terlalu sering, mendengar umpatan khas arek itu, tak pelak saya benar-benar terperangah. Beberapa malam yang lalu, Bang Ro’is, demikian dia biasa kami panggil, tiba-tiba mengumpat di depan saya, dengan nada yang benar-benar menakutkan. Bukan menyerapahi saya tentunya, tapi melepas kesal atas apa yang tampaknya baru saja dia alami.

Onok opo Bang? La opo, sampeyan kok kemropok koyok ngono? Sik tas teko moro-moro kok misuh-misuh (Ada apaan, Bang? Kenapa nih, sampeyan kok meledak-meladak kayak begini? Baru datang kok langsung marah-marah)),” saya coba se-casual mungkin mengorek keterangan dari dia. Bang Ro’is, sambil mengatur nafas yang masih kelihatan tersengal-sengal, mulai bercerita. “Wanine mek interogasi rakyat. Lha Bakrie iku po'o coba interogasien. Hmm, apane? (Beraninya cuma menginterogasi rakyat. Kenapa tidak Bakrie, coba dia diinterogasi),” semprotnya masih dengan nada tinggi.

Sik talah, genah-genah, aku lak yo bingung seh ngrungokno crito sampeyan (Sebenter dulu, santai. Aku kan juga bingung mendengarkan cerita sampeyan),” saya coba lagi dengan nada seadem mungkin. “Sik, ngrokok iki sik (Sebentar, merokok dulu nih).” Saya sodorkan dan nyalakan rokok kretek yang kami sama-sama gemari. Setelah dua kali kebulan, saya coba ajak bicara lagi. “Sing diinterogasi iku sopo? Terus sopo sing nginterogasi? (Yang diinterogasi siapa? Terus yang menginterogasi juga siapa?)”

Tampaknya Bang Ro’is sudah lumayan tenang. Sambil menikmati rokok kretek, dia pun mulai cerita. Ternyata dia baru saja diapeli dua orang intel, pas lagi nongkrong di Posko Desa Siring. Ihwal mulanya adalah spanduk yang dia pasang di pinggir Jalan Raya Porong, yang isinya Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL) adalah kelompok pengecut dan pengkhianat warga. Sementara, di bagian bawah spanduk, tidak seperti lazimnya spanduk yang mencamtumkan nama lembaga atau kelompok, tercantum dengan jelas satu-satunya tanda tangan: Bang Ro’is, Desa Siring.

Karena spanduk itulah, kedua intel itu mendatangi Bang Ro’is, dan menanyai dia macam-macam. Mulai dari kenapa dia memasang spanduk itu, kenapa ada posko warga, kenapa enggak mau ikut resettlement seperti yang ditawarkan Lapindo, sampai kenapa ada poster almarhum Cak Munir dan majalah-majalah dari Kontras di posko warga.

Lha, pancen Munir mbelani wong cilik kok. Salah tah masang gambare. (Lha memang Munir membela wong cilik kok. Apa salah memasang gambarnya?)” terang Bang Ro’is kepada kedua intel itu. “Minggu wingi aku teko Jakarta ketemu ambek wakeh LSM sing mbelani korban, terus mulihe mampir nang kantore Kontras. Opo'o lek aku digawani majalah? (Minggu kemarin saya datang ke Jakarta, bertemu banyak teman LSM yang membela korban. Lalu pulang mampir kantor Kontras. Memang salah kalau saya dibawain majalah?)

Masih dengan nada yang tidak ada ketakutan sedikit pun, Bang Ro’is bahkan menantang intel-intel itu untuk menangkap dia kalau memang dia dianggap bersalah. “Ayo, gowoen ae aku. Malah seneng aku, tak buka' blak kabeh engko nang Polda. Ojo tanggung-tanggung lek arep nyekel aku. Gak bakalan aku mblayu, hmmm, iki lho Bang Ro’is, mbelani wong cilik (Ayo, ambil saja saya. Justru saya senang, saya buka habis-habisan nanti di Polda. Tidak usah tanggung-tanggung kalau mau menangkap saya. Saya tidak bakal lari. Ini lho Bang Ro’is, membela wong cilik.),” terangnya sambil tergelak, karena menurut dia, setelah itu kedua intel itupun ngeloyor pergi.

”Lha iyo,” selidik saya, “sampeyan kok wani-wanine ngomong GKLL iku pengecut dan pengkhianat, dasare iku opo? Sampeyan nduwe buktine tah? (Lha iya, sampeyan kok berani-beraninya bilang GKLL pengecut dan pengkhianat, apa dasarnya?)” Ternyata saya melontarkan pertanyaan yang keliru (atau malah justru tepat?).

“Koen iku yo opo seh,” karena nada suaranya tiba-tiba meninggi lagi, “kabeh wong sak Porong iki ngerti lek poro pentholane GKLL iku bajingan kabeh. Podho ae ambek Minarak ambek Andi Darussalam iku. Lha, termasuk Nun barang iku yo pengkhianat warga pisan (Kau ini gimana sih. Semua orang di Porong tahu kalau pimpinan GKLL itu bajingan semua. Sama saja dengan Minarak, sama saja dengan Andi Darussalam. Lha, termasuk Nun itu, dia juga pengkhianat warga).” Cukup terperangah juga aku mendengar kata-katanya yang terakhir.

Sopo Bang?" tanya saya, agak tidak yakin dengan kata “Nun” yang saya dengar. Dalam hati, kalau orang yang dekat dengan GKLL, Nun yang dimaksud berarti kan Emha Ainun Nadjib. Lha bukannya Cak Nun katanya membela warga korban lumpur? Ini mesti ada yang enggak beres, saya pikir.“Nun sopo seh?” Saya coba memastikan kecurigaan saya.

Lha sopo maneh. Yo Ainun Nadjib iku. Jarene ae mbelani rakyat. Sampek wong-wong akeh disumpah-sumpah koyok maling. Saiki dekne dewe sing dadi garong. Coba lek wani mreneo, sak iki ngadepi wong korban lumpur. Lek wani kene disumpah wong akeh lek de’e gak mlokotho awak-awak ndewe iki (Lha siapa lagi. Ya Ainun Nadjib itu. Katanya saja membela rakyat. Sehingga semua orang disumpah seperti maling. Sekarang, dia sendiri yang jadi garong. Coba kalau berani, ke sini, sekarang hadapi warga korban lumpur. Kalau berani, ke sini, disumpah orang banyak jika dia tidak membohongi kita-kita ini),” sembur Bang Ro’is, dengan nada semakin menakutkan.

Ya ampun, gumam saya, kok Cak Nun yang dulu kata koran dipuja-puja sebagai 'pahlawan' korban lumpur itu, kok berubah menjadi garong dan disamakan kebejatannya dengan Lapindo dan Andi Darussalam. Saya coba membantah, masih tidak percaya dengan kata-kata Bang Ro’is.“Sik ta lah, sampeyan ojo sembarang nuduh uwong lho ya. Opo maneh wong alim, kuwalat temenan lho (Sebentar dulu, sampeyan jangan sembarangan menuduh orang lho, ya. Apalagi, ini orang alim. Kuwalat lho nanti.).

”Kuwalat telek kocing. Yo Nun iku sing engko kuwalat. Kedosan ambek wong-wong Darjo. Heng, iki lho deloken dewe surat-surat iki. Opo ngene iki jenenge lek gak dhobol (Kuwalat tahi kucing. Ya Nun itu yang nanti kuwalat. Karena berdosa kepada orang Sidoarjo. Nih, lihat sendiri surat-surat ini. Apalagi namanya begini ini kalau tidak brengsek),” Bang Ro’is, bersungut-sungut, sambil membanting segepok berkas di dalam map plastik yang dari tadi dia tenteng.

Di dalam berkas-berkas itu, ada kronologis, bagaimana dari awal warga sudah diyakinkan oleh Cak Nun bahwa Lapindo akan membeli tanah dan bangunan mereka, meskipun mereka hanya memegang bukti kepemilikan Letter C, Pethok D atau SK Gogol. Bahkan untuk meyakinkan para pihak, warga sampai harus disumpah bahwa luas bangunan mereka adalah sebenar-benarnya yang ada di berkas pengajuan.

Yang saya baru tahu, untuk mengurus proses pencairan uang muka 20 persen itu, ternyata warga dikutip biaya2 yang besarnya bervariasi mulai dari 1 persen dari nilai aset dan bangunan mereka. Dan yang membuat saya benar-benar terperangah adalah adanya berkas laporan keuangan dari masing-masing koordinator desa bahwa mereka 'menyetor' 30 juta kepada Cak Nun dan hal itu disampaikan dan ada bukti pengeluarannya ditunjukkan secara terbuka kepada warga.

Halah, ini beneran apa ngarang sih. Aku baru mau mengkonfirmasikan hal itu kepada dia, namun langsung di potong, "sik, woco'en kabeh, cekne koen percoyo. Cekne gak dibujuki koran ambek TV ae." (Tunggu dulu, baca dulu semuanya, biar kamu percaya. Biar tidak selalu dibohongi koran dan TV). Aku pun langsung melanjutkan memelototi satu persatu berkas-berkas itu. Ada surat kuasa kepada Cak Nun, ada data rekapan per desa dari warga yang memberi mandat kepada Cak Nun, ada berkas surat yang pakai cap jempol.

Aku pun langsung teringat pembicaraan telepon dengan Cak Nun beberapa bulan silam ketika aku menanyakan, kok Cak Nun mengaku dimandati 94% korban lumpur, atau berjumlah 45 ribuan warga. "Lha sampeyan carane ngerti teko endi?" (Anda tahunya dari mana), tanyaku waktu itu. "Lho, yo enek surate Win, lek nggak moso aku yo wani ngaku2 ngono?", (Ya ada suratnya Win, sebab kalau tidak begitu, masa saya berani mengaku-ngaku), jelas Cak Nun. "Petangpuluh ewu surat?"(empat puluh ribu surat?), kejarku belum yakin.

"Yo dudu jumlah jiwa rek, tapi berdasar KK (bukan jiwa, tapi KK)," tambah Cak Nun. Masih belum percaya, aku teruskan, "Telulas ewu surat kuasa Cak (Sebanyak 13ribu surat, Cak)?" menyebut kira-kira jumlah KK yang menjadi korban. "Yo gak telulas ewu surat tak cekel kabeh, tapi enek rekapane teko arek-arek (para koordinator GKLL, maksudnya) iku”. (Ya ndak semua tiga belas ribu surat diserahkan aku., tapi ada rekapannya di anak2 GKLL)

Saat itu aku sudah bilang ke Cak Nun, "Lho sampeyan kok wani-wanine ilo percoyo ambek sing ngunu iku."(Kok berani percaya dengan yang seperti itu?) Aku mencoba menjelaskan kemungkinan adanya kemungkinan manipulasi dari para pimpinan itu terhadap keinginan sebagian besar warga. "Lek sak ngertiku cak, karena aku yo wong ndeso, wong-wong ndeso iku karepe gak koyo sing disampekno arek2 iku," (setahuku, karena aku juga dari desa, orang-orang desa itu tuntutannya tidak seperti yang disampaikan anak2 GKLL itu).

"Lan maneh, kit kapan sing jenenge wong ndeso iku kabeh ngerti surat-suratan. Lha wong moco nulis ae akeh sing nol pothol."(Lagipula, mulai kapan orang-orang desa semua bisa membuat surat. Baca tulis aja tidak bisa), kunyatakan keyakinanku. Pada saat itu, Cak Nun mengajak aku dipertemukan langsung dengan tokoh2 GKLL untuk mengklarifikasi kecurigaan2ku tadi. Tapi entah kenapa, pertemuan itu tidak pernah terjadi, dan Cak Nun sekarang diserapahi (paling tidak menurut Bang Ro’is) oleh ribuan orang Sidoarjo.

Aku jengah juga mbayangin hal itu. Sebab meskipun tidak dekat, tapi aku bisa dibilang pernah kenal dengan Cak Nun dan juga anaknya. Kalau Bakrie disumpah serapah, dido’ain yang jelek, anak keturunannya tidak akan bahagia, aku sudah terlalu sering dengar. Dan demi melihat perilaku mereka, gimana aku tidak memihak korban.

Tapi mbayangin Cak Nun, atau Mbak Novia, atau Noe atau calon istri atau anaknya kelak, ikut-ikutan disumpahin ribuan korban lumpur, aku ngeri sendiri. Padahal katanya do’a orang yang teraniaya akan mujarab. Gimana kalau sampai misalnya, mengutip balesan sms Cak Nun kepada orang2 yang dulu menuduh dia macem2, akibat do’a orang yang teraniaya itu, anak turune Cak Nun beneran cangkem-e pethot,sikile pethor, angel uripe, kisruh rumah tanggane. Masya Allah


Kembali ke berkas-berkas yang aku pelototi semalam, keraguan dan kecurigaan lamaku tentang kabar mandat memandati Cak Nun itu sedikit banyak terjawab. Meskipun itu juga menimbulkan beban pikiran yang baru. Ada uang 30 juta dari masing-masing desa untuk Cak Nun. Ada bukti pengeluaran, dan warga meyakini selama berbulan-bulan ini (kan gak ada klarifikasi apapun dari dia) bahwa Cak Nun sudah menerima uang dari mereka.

Sebagai bentuk tanda terima kasih memang, tapi juga sebagai persekot. Untuk apa? Ya agar Cak Nun membantu memuluskan pelunasan sisa pembayaran yang 80 persen, yang mestinya mulai jatuh tempo bulan April-Mei 2008 yang lalu.

Tetapi kemudian kan Lapindo mulai bermanuver. Mulai menyiapkan lahan untuk membangun perumahan yang nantinya akan dijual secara paksa kepada warga. Dibingkai sehalus mungkin sampai bahkan semua pejabat kompak meyakinkan, warga akan dibayar tunai. Perumahan yang dijual Lapindo hanya untuk yang bersedia, dan tidak akan ada paksaan.

Mendekati saat-saat pelunasan, tidak kunjung jelas juga bagaimana mekanisme pelunasan akan dilakukan. Yang muncul malah Lapindo kian gencar mempublikasikan di media massa, bahwa mereka tengah menyiapkan perumahan bagi korban lumpur Lapindo. Betapa ber-budi-nya. Tidak terbukti bersalah, tetapi menyediakan rumah kepada korban, lebih bagus lagi kualitasnya. Coba kurang apa.

Tapi warga sudah kenyang dengan muslihat licik dan akal bulus Lapindo. Warga merapatkan barisan, berkonsolidasi antar korban yang berkepentingan sama, dan kemudian membentuk Gabungan Korban Lumpur Lapindo. Wah, agak tenang nih, pikir sebagian besar warga, ada organisasi yang mewakili. Dan satu lagi yang membuat warga semakin tenang, kan masih ada Cak Nun. Pahlawan pembela korban, yang bisa membuat Presiden menangis 3 kali dan dilanjutkan dengan berkantor di Juanda selama 3 hari .

Dibikinlah lagi mandat baru kepada Cak Nun, untuk membantu penyelesaian pembayaran 80 persen. Disertai dengan sebuah ikrar dan perikatan sumpah, tidak akan ridha dunia akhirat kalau Lapindo tidak membayar. Cak Nun ternyata menerima amanah maha berat itu (atau paling tidak bagi warga, Cak Nun tidak menolak). Maka pungutan pun dikutip lagi (entah untuk apa karena di tahapan ini mestinya sudah tidak perlu lagi pengurusan berkas2).

Istighotsah, kebulatan tekad, sampai dipaksa beli kaos yang kemahalan dilakukan oleh warga demi menuntut pembayaran sisa 80 persen. Sementara Lapindo sudah semakin jelas dan mengerucut tidak akan membayar sisa 80 persen bagi aset yang tidak bersertifikat (lalu kenapa dulu mereka mau membayar yang 20 persen kalau memang non sertifikat tidak sah). “Gak mungkin nek Nun gak paham sing ngono-ngono iku, wong de’e sing mimpin” (tidak mungkin Nun tidak mengetahui hal-hal itu, sebab dia yang memimpin), sungut Bang Ro’is

Masih saja ada kelit yang bisa diambil Lapindo. Karena kami baik hati, biarlah yang 20 persen itu dianggap sebagai hadiah kepada korban. Gila. Tetapi toh tidak ada yang mengomentari. Ya memang tidak banyak yang tahu, wong media juga bungkam, dan termakan pi-ar Lapindo yang yahud punya.

Sampai kemudian, hanya beberapa hari setelah peringatan 2 tahun semburan lumpur yang ditandai dengan penguatan tekad menuntut pembayaran tunai, muncul surat yang paling sakti dalam sejarah negeri ini. Selembar surat pernyataan yang ditandatangani direktur sebuah perusahaan yang tidak riil, dengan beberapa 'perwakilan' warga, disaksikan oleh Cak Nun, mengalahkan Perpres, Keputusan MA, dan SK Kepala BPN pusat.

Belum sempat warga pulih dari kekagetannya akibat perwakilan dan ‘pahlawan’nya tiba2 mengkhianati mereka, mereka dihadapkan pada ultimatum ala deklarasi perang melawan teroris dari George W. Bush. You're either with us or against us. "Sampeyan arep melu GKLL nurut karepe Lapindo opo milih gak dibayar?" Kira-kira begitu yang disampaikan para operator lapangan mereka, yang kian menambah kepanikan warga.

Pada situasi seperti itu, kok ya Lapindo masih bisa jualan kecap dengan acara peresmian perumahan (yang hanya berjumlah 11 biji) sekaligus penyerahan kunci rumah (literary benar2 hanya kunci). Yang muncul, berita Aburizal Bakrie (yang datang ke Sidoarjo sembunyi2 ala tikus got, demi seuntai publisitas) merangkul warga yang penuh rasa terima kasih bahagia karena mendapat rumah yang jauh lebih baik dari rumahnya di desa, dengan tulisan besar2, JANJI ITU AKHIRNYA TERWUJUD!!! Entah apalagi yang bisa dibilang.

Dan pada saat warga sudah sedemikian terpuruk, tidak ada kabar apapun mengenai surat mandat yang diberikan kepada Cak Nun. Tidak ada upaya apapun untuk mempertanggung- jawabkan mandat yang sudah diberikan oleh rakyat yang sudah berada di titik nadir itu. Ataupun sekedar penjelasan atau tegur sapa, yang katanya diajarkan agama.

Aku menyelesaikan membaca berkas-berkas itu, melihat dengan tatapan hampir tidak percaya ke arah Bang Ro'is. Seolah menegaskan, Bang Ro’is menutup, "Iyo kan, ngerti kan sak iki? Lek wes ngerti ngene, lek jaremu kiro2 yo opo? Opo gak pancen bajingan kabeh, cekne tego2ne mangan daginge rakyat Darjo sing wes gak nduwe opo2 ngene iki" (Betul kan, paham kan kamu sekarang. Kalau sudah paham, menurutmu kira-kira gimana? Apa tidak memang bajingan semua. Kok bisa tega makan daging rakyat Sidoarjo yang sudah tidak punya apap-apa lagi)

Aku hanya diam, dan bergumam pelan. Melakukan hal yang paling lazim yang biasa dilakukan manusia didalam ketidakberdayaan.

-Duh gusti, nedi sepunten menawi kulo pun dzolim lan mboten saged ningali kesaeyan tiyang. Ugi menawi kulo sampun suudzon kaliyan dulur sing niyate sae. Tapi mungguho dipun paringi keadilan dumateng sinten kemawon kang damel puluwan ewu dulur2 kulo teng Darjo ngalami penderitaan ingkang mekaten awrate!!!- (Ya Tuhan, ma’afkan hambamu ini seandainya saya telah sudah berlaku dzalim kepada orang lain, dan tidak mampu melihat kebaikan orang. Juga seandainya saya sudah berburuk sangka kepada saudara yang berniat baik. Tapi saya juga mohon keadilan-Mu bagi siapapun yang menyebabkan puluhan ribu saudara-saudara di Sidoarjo mengalami penderitaan yang sedemikian tak tertahankan)

Saya terdiam sejenak menyerapi do'a singkat itu, mencoba mendinginkan hati dan berusaha arif dan legowo. Meski akhirnya tetap saja tidak tertahankan desakan itu,

" JANCUK...!!!"

Catatan Tambahan :

Poin 5 nota kesepahaman MLJ dan GKLL yang disaksikan Cak Nun berbunyi : “PT Minarak Lapindo Jaya tidak akan melaksanakan pembayaran cash and carry kepada warga korban lumpur yang bukti kepemililikannya Pethok D/Letter C/SK Gogol dalam kondisi dan situasi apa pun.”

Padahal hanya bilangan minggu sebelumnya, Cak Nun menerima mandat dari ribuan korban agar memperjuangkan pembayaran tunai untuk sisa pembayaran 80 persen yang segera akan jatuh tempo

Pada tanggal 16 Juli 2008 dalam sebuah acara yang bertajuk Diskusi Evaluasi Tim TP2LS DPR terhadap program cash and resettlement dari MLJ (yang entah kenapa lolos dari liputan hampir semua media), Cak Nun dikutip Tribun dan dimuat di website padhangmbulan.com, mengatakan :

”Mereka yang dibayar 20 persen saja sudah makmur apalagi kalau sampai sisa pembayaran 80 persen dibayar. Padahal, apa yang sebenarnya terjadi pada Lapindo, wong belum ada yang diputuskan bersalah tapi sudah dibayar ganti rugi. Ibarat kata, Lapindo itu sudah memberikan sadakoh kepada warga," katanya.

Pernyataan yang tidak hanya melukai perasaan korban, tetapi membuat beberapa warga yang saya temui menyatakan niatnya untuk mampu membunuh.

Thursday, July 31, 2008

IMEDIABIZ.TV - gratis nonton TV lokal online


Pengobatan Unik Dunia!

28 Juli 2008 - TYMASk.ono

Pengobatan AIDS Afrika Selatan: Bercinta dengan Perawan



Sebuah survey menemukan lebih dari 1/3 masyarakatnya percaya pada
pengobatan kuno yang unik ini. Yap.. bercinta dengan perawan, yang
dipercayai mampu membersihkan kuman2 dalam tubuh penyebab penyakit
AIDS. Mitos ini muncul di Afrika Selatan yang merupakan negara dengan
tingkat kekerasan seksual tertinggi.


Pengobatan Inggris Kuno untuk Malaria: Jaring Laba-laba



Beberapa dekade lalu saat sebuah wabah malaria menjalar secara cepat
di berbagai belahan dunia, bermacam pengobatab digunakan untuk
mengatasi penyakit ini. Salah satu obat yang paling unik waktu itu
adalah tablet yang dibuat dari gulungan jaring laba2. Bukti dari
khasiat tablet ini memang telah memudar beberapa abad lalu namun kini
justru telah dikembangkan obat sejenis berbahan laba-laba yang masih
hidup. Wew…


Pengobatan Mesir Kuno untuk Infeksi Mata: Darah Kelelawar



Masyarakat Mesir kuno pernah mengalami masa-masa sulit saat wabah
kebutaan menyerang wilayah itu, karena curah matahari yang cukup tinggi
serta diperparah dengan adanya badai gurun. Untuk menangani masalah
ini, para dokter di zaman Mesir kuno menggunakan darah kelelawar yang
diteteskan pada mata pasiennya. Mereka berpikiran bahwa kelelawar
memiliki pandangan yang tajam sehingga obat ini mereka gunakan pada
para pasiennya.


Obat Sakit Perut dari Cina: Empedu Monyet



Empedu monyet merupakan pengobatan yang telah lama digunakan
masyarakat Cina. Bukan hanya untuk penyakit mata, obat ini digunakan
juga sebagai ramuan anti sakit perut. Sedangkan darah dari
monyet-monyet ini digunakan untuk obat kuat. Di Indonesia pun masih ada
yang memakai kera sebagai obat. Mereka menggunakan otak kera sebagai
obat penyakit impotensi.


Obat anti Penuaan: Mandi Bir



Di kota Chodova Plana, Czech Republic, terdapat sebuah “pusat
kesehatan bir” yang merupakan pertama dan satu-satunya di dunia.
Di sana mereka menawarkan perawatan dengan sarana mandi air hangat yang
dicampur dengan air mineral dan juga bir. Terapi ini diyakini mampu
mencegah dari penuaan terutama bagi para wanita. Hmm…


Obat Radang Tenggorokan: Kotoran Anjing



“Album graecum” merupakan sebutan untuk kotoran anjing
ato hyena yang telah memutih karena berda di udara terbuka. Jaman
dahulu kotoran anjing ini digunakan untuk pengobatan tradisional dan
biasanya dicampur dengan madu. Campuran kotoran anjing plus madu ini
mampu membersihkan tenggorokan sehingga diyakini mampu mengobati
peradangan pada tenggorokan.


Obat Impotensi dari Peru: Jus Kodok


Sering disebut dengan Viagra dari Peru. Sangat cocok untuk mereka
para pengidap lemah syahwat. Permintaan pasar untuk produk
‘Extracto de rana’ (Jus Kodok) ini sangat tinggi di kota
Lima, Peru. Selain untuk impotensi, jus ini juga mampu mengobati
penyakit lainnya seperti, asma, bronkitis, dan penyakit pernafasan
lainnya. Namun ada satu bahan campuran yang ternyata meningkatkan
khasiat dari jus ini yaitu Maca, yang berupa tumbuhan sebagai obat kuat
berasal dari Amerika Selatan.





Ternyata Lima Presiden Indonesia Pernah Ditipu

2008 Jul 29

Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tertipu' dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.

Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.

Penipu 'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.

Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada 'raja' dan 'ratu' tersebut.

Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.

Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.

Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut Zahara.

Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.

Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.

Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.

Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.

Setelah tidak terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.

Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.

Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.

Pada masa Presiden Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.

Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.

Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan.

Dikutip Dari Beberapa Sumber Di Internet

Masih ingin berbagi file Audio? Jangan upload format MP3

Dengan adanya fitur baru multiply di kanal musik yang berakibat link "play this playlist"-nya hidden alias ngumpet, maka sebaiknya format audio yang di upload jangan MP3. Untuk itu convertlah terlebih dahulu mejadi format-foramt audio lainnya, misal WMA, AAC, AAC+, MP4, RA dst

Kenapa segitu repot?

Repot atau tidak ya tergantung niat masing-masing mau berbagi atau mau pamer koleksi musik, tidak ada paksaan untuk urusan ini, yang ada hanyalah pemberitahuan doang tidak lebih.

Perlu Converter audio?
Ini linknya ceklik dan pilih sendiri

Salam

Wednesday, July 30, 2008

Tips nGakalin Download File Audio di Flash player barunya MP

Kalau mau ngakalin download khusus gara-gara terinstallnya webplayer baru tersebut silahkan ikuti 2 petunjuk berikut :
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1.Gunakan INTERNET DOWNLOAD MANAGER (IDM)

1) Download IDM disini http://waemesul.googlepages.com/IDMVer.5.03.zip
2) Install IDM, tutup Firefox atau Opera web browser
3) Buka lagi web browser anda kunjungi halaman music teman anda
4) Click play flash player, maka IDM akan meminta perintah Download atau kemudian (pilih download lah tenunya, ya nggak?)
5) Ceklik saja next song, dan lakukan hal serupa di no 4 tadi


2. Gunakan FIREFOX DOWNLOAD HELPER - add-on browser Firefox

1) Ceklik link ini buat install https://addons.mozilla.org/en-US/firefox/addon/3006
2) Putar lagu yang anda inginkan maka si add-on ini akan otomatis deteksi file yang akan didownload, apapun bentuk file multimedia maka tersedot secara otomatis.


Begitulah kiranya kalau memang kita penggemar berat nge-Download file Audi (ingat bukan hanya file music). Tapi problem nya bukan masalah ini, problemnya adalah, fitur tersebut bagus namun tidak semestinya link "Play the playlist"-nya dimatikan karena ini yang bikin "sebel" .

Okehhh? Atau ada masukan lain?

Kalau tidak, ya sudah saya blogwalking lagi... Salammmmm

Link terkait :
http://admingrup.multiply.com/journal/item/62

Mesin Pembunuh itu bernama : MP Flash-based playlist player

Link

Ini beritanya

We just released a couple new features. They are features that you're sure to love.Be prepared to begin loving:
Guestbooks for groups By popular demand, we've added guestbooks to groups. So if you're a group administrator and think your group could use a guestbook, you can add one by visiting the group's homepage and clicking "Customize Site" followed by "Guestbook" in the yellow header. Group administrators can also choose — as with other content — whether the guestbook should be accessible to anyone, or only to group members.

Flash-based playlist player
You already know the small audio player you can add to your homepage. Well, we've brought this pearl of greatness to playlists as well; now you can play these, too, without leaving your browser!
So... how would you describe your feelings toward these features?
Mengapa saya katakan pembunuh?
Karena bila kita upload music/sound file berformat MP3 maka kita tidak akan bisa memainkannya melalui winamp atau realplayer.Apa enaknya sih dengerin sound file sambil melototin browser? Hanya pelamun saja yang mau lakukan itu barangkali.

Apa akibat lanjutannya?

Multiply mencoba mengakalin atau meminimalis kemungkinan didownloadnya file audio melalui link terkenalnya "Play this playlist", yang ternyata menjadi ajang paling mudah nyedotin file audio. Saya katakan file audio bukan semata-mata file music! Karena yang diupload belum tentu file music bisa saja file ucapan selamat ulang tahun keluarga anda atau mungkijn kenangan indah saat anda menyanyikan lagu buat kekasih hati, ya kan?

Terus Apalagi dong?
Hehehe... sorry, dilanjut nanti, mau manadi dulu...Salam, silahkan bergembira atau menangis semua pilihan anda.Akankah Multiply akan jadi barang rongsokan karena fiutr akal-akalan itu?

Link terkait :
http://multiply.multiply.com/journal/item/246
http://multiply.multiply.com/item/reply/multiply:journal:246+55
http://admingrup.multiply.com/reviews/item/16

Tuesday, July 29, 2008

Presiden RI 2009 menurut teori Joyoboyo adalah "SUTIYOGO"

Presiden RI 2009 menurut teori Joyoboyo

27 July 2008 | www.blogberita.net

Konon urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah
”notonogoro” — urutan suku kata terakhir nama mereka.
”No” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan
”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Kini giliran
“go”; maka Kivlan Zen, bekas petinggi TNI, mengubah namanya
menjadi Sutiyogo untuk ikut Pilpres 2009. Bah, orang
“ngelmu” kayak begini mau jadi presiden?


Majalah Tempo edisi pekan lalu menurunkan liputan utama berjudul Mimpi jadi presiden. Sejumlah tokoh sipil dan militer yang ingin jadi RI-1 diulas, salah satunya adalah Kivlan Zen. Blog Berita
tergelitik membaca salah satu artikel Tempo tentang usaha Kivlan
mempersiapkan dirinya menjadi presiden, yaitu dengan cara mengubah
namanya agar sesuai ramalan Joyoboyo.


H spasi D, heran deh…. Di bawah ini Blog Berita mengutip artikel Tempo tersebut.


Pendukung Kivlan Zen percaya akan munculnya Satrio Piningit. Berbekal keris dan ramalan Joyoboyo.


Zaap…, Kivlan Zen melihat bola biru melesat ke angkasa.
Tengah malam sudah lewat, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis
Angkatan Darat itu sedang tirakat di emperan musala di kompleks
pemakaman Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, awal Juni tahun lalu.


Kivlan, 63 tahun, telah selesai menjalani ritual nyekar di pusara
sang Proklamator. ”Semoga Paduka yang Mulia diberi kelapangan di
alam kubur,” kata pensiunan mayor jenderal itu menceritakan
kembali pengalamannya. Bersama menantunya, ia melakukan salat malam dan
kemudian tirakat.


Menurut Kivlan, ada lima peziarah lain yang menyaksikan bola biru
melesat malam itu. Mereka menyebutnya lintang kemukus — dalam
tradisi Jawa diyakini menjadi pertanda bakal munculnya Satrio Piningit.
”Sebulan kemudian, jam satu malam, saya bertemu dengan lintang
kemukus lagi ketika naik mobil di Bintaro, Jakarta Selatan,”
ujarnya.


Setahun setelah munculnya lintang kemukus itu, Kivlan
mendeklarasikan diri sebagai calon presiden di Gedung Museum
Kebangkitan Nasional, Jakarta. Ia mengusung slogan: ”Pembaruan
dan Tegas”. Jualannya pembangunan pertanian dan energi bersumber
alam. Ia mengklaim punya sumber energi baru yang dinamai ”fuel
cell”.


Kivlan yakin dukungan politik dan dana untuknya akan
datang. Ia pun siap memperluas kewenangan otonomi daerah, termasuk hak
mengelola anggaran oleh pemerintah daerah. ”Para gubernur pasti
mendukung saya,” ujarnya.


Bagi Anda yang sudah lupa dengan Kivlan Zen, mari sama-sama membuka
catatan lama. Kivlan dulu pernah mengaku diperintah Panglima Tentara
Nasional Indonesia Jenderal Wiranto membentuk Pam Swakarsa —
milisi sipil yang dipersenjatai bambu runcing untuk melawan demonstrasi
mahasiswa menjelang Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat
1998. Wiranto membantah tudingan Kivlan itu dan jadilah keduanya
berpolemik di media massa. Keduanya juga saling serang dengan cara
menerbitkan buku.


Kini Kivlan bangkit lagi. Untuk meraih mimpinya, menurut orang
dekatnya, ia mengejar dukungan hingga alam gaib. Sang calon presiden
kabarnya memiliki guru spiritual
bernama Ahmad Zakaria, pria 100 tahun yang mengklaim masih merupakan
kerabat Keraton Yogyakarta. Kepada Kivlan, kata sumber itu, Zakaria
memberikan pertanda: ”Presiden tahun depan bukan orang
Jawa.” Ia pun meminta Kivlan cepat-cepat mengumumkan diri sebagai
calon presiden.


Agar lebih sedap, ramalan lawas juga dibuka. Menurut teori Joyoboyo
yang masyhur, urut-urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah
”notonogoro” — urut-urutan suku kata terakhir nama
mereka. ”No” untuk Soekarno, ”to” untuk
Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono.
Adapun B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri
dianggap sebagai tokoh peralihan.


Nah, kini giliran yang punya nama ”go” untuk memimpin.
Kivlan Zen jelas tak memenuhi syarat ini. Tapi itu tak jadi masalah. Ia
sudah punya nama lain: Sutiyogo. Prosesi mengubah nama itu kabarnya
telah dilakukan sebulan lalu.


Saat dimintai konfirmasi soal itu, Kivlan tak
membantahnya. Ia berujar, ”Saya memang suka ngelmu, sejak
berlatih silat ketika kelas II SMA di Medan.” Di mana pun
bertugas ketika masih aktif di militer, ia mengaku selalu berguru
kepada ulama. ”Saya pengikut tarekat Naqsabandiah.”


Satu lagi senjata pamungkas Kivlan: keris tujuh lekuk setengah meter
dari besi kuning. Keris itu diberi nama Satrio P. Saat ditanyai apakah
P itu merupakan singkatan dari ”Piningit”, Kivlan tangkas
menjawab, ”Biar saja orang lain yang menafsirkan, nanti geger
Indonesia.”


Nah, siapa berani melawan Sutiyogo, eh, Kivlan Zen? [Tempo/Budi Riza]


  • Foto Kivlan: Tempo/Dwi Djoko Sulistyo

Korban Ryan Jadi 11, Penggalian Dilanjutkan

Selasa, 29 Juli 2008

SURABAYA (Suara Karya): Jumlah korban pembantaian Verry Idham Henyansah alias Ryan (30) benar-benar mencengangkan. Senin kemarin, enam lagi kerangka/jasad korban ditemukan di halaman belakang dan samping rumah orangtua Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jatim. Keenam jasad itu diduga kuat merupakan korban kekejian Ryan. Dengan demikian, korban pembantaian Ryan berjumlah sebelas orang.

Tapi polisi menduga, di luar kesebelas orang itu masih terdapat sejumlah korban lain yang masih terkubur di sekitar kediaman orangtua Ryan. Dugaan tersebut berdasar pada laporan orang hilang yang mencapai 27 laporan. Karena itu, peralatan penggalian di rumah orangtua Ryan belum ditarik. Polisi memberi isyarat bahwa hari ini penggalian dilanjutkan untuk menemukan korban-korban lain.

Kemarin, polisi menggali lima lubang di halaman rumah orangtua Ryan sesuai pengakuan lelaki gay itu. Dari lubang pertama di dekat septic tank, polisi mendapati jasad seorang wanita dewasa dan anak-anak. Menurut penuturan Ryan kepada polisi, mereka adalah Nanik Hidayati (23) dan anaknya Silvia Ramadani (3). Ibu dan anak itu hilang sejak 2 April lalu.

Dari lubang kedua, polisi menemukan jasad Azinul Arifin alias Zaki (21), penyiar Radio Gita FM Jombang, yang hilang sejak Januari 2008. Lalu dari lubang ketiga, yang terletak beberapa puluh sentimeter dari lubang kedua, ditemukan jasad Muhammad Achsoni alias Soni (29) yang hilang sejak November 2007.

Tak jauh dari situ, di lubang keempat, ditemukan jasad Agustinus Fitri Setiawan alias Wawan (28) yang hilang sejak Agustus 2007. Sementara dari lubang kelima, polisi menemukan satu kerangka yang belum teridentifikasi, kecuali berkelamin laki-laki.

"Ini merupakan korban yang dibunuh Ryan pada tahun 2006 dan diduga merupakan korban pertama. Ryan sendiri mengaku tak ingat lagi tentang korban tersebut," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja usai meninjau tempat kejadian perkara (TKP) dengan helikopter, kemarin.

Pekan lalu, empat korban pembantaian Ryan adalah Aril Somba Sitanggang (warga Malang, Jatim), Vincentius Yudi Priono (warga Wonogiri, Jateng), dan Guruh atau Guntur Setio Pramono (warga Nganjuk, Jatim). Sementara seorang lagi bernama Graddy yang semula diduga ras Eropa (kaukasoit), ternyata berdarah Manado (marga Tumbuan).

Ryan sendiri ditangkap polisi karena membunuh dan memutilasi teman kencannya, Heri Santoso, di Depok, Jabar, dua pekan lalu. Jasad Heri yang sudah terpotong-potong dibuang Ryan di Kebagusan, Jakarta Selatan, 12 Juli 2008.

Menurut Herman, polisi akan melakukan identifikasi mayat yang ditemukan untuk dicocokkan dengan pengakuan tersangka. Setelah itu, keterangan tersangka akan dicocokkan lagi dengan keterangan sejumlah saksi, termasuk keluarga korban.

Sementara itu, hasil tes DNA atas tiga jasad korban pembunuhan Ryan, yang dilakukan Biddokpol Polri, ternyata cocok dengan data pembanding dari orangtua ketiga korban.

Menurut Herman, jika proses konfrontasi dengan tersangka Ryan sudah selesai, maka ketiga jasad itu segera diserahkan kepada keluarga masing-masing dengan biaya negara.

Ketiga jasad yang menjalani tes DNA itu adalah Aril Somba Sitanggang, Vincentius Yudi Priono, dan Guruh/Guntur Setio Pramono. Sementara terhadap satu jasad lagi belum dilakukan tes DNA.

Menurut Herman, jasad itu belum dites DNA karena belum ada keluarga yang melapor. Tapi polisi meyakini bahwa jasad itu milik Graddy yang berdarah Manado dan bermarga Tumbuan. "Jadi, korban bukan orang asing. Tapi belum ada keluarganya yang melapor ke Polda Jatim," katanya.

Ryan diduga membantai Nanik Hidayati dan putrinya Silvia karena tergiur emas dan uang sebesar Rp 25 juta milik korban. Sepupu Nanik, Ida Andarini (38), mengungkapkan, dia berkomunikasi via telepon dengan Nanik. Saat itu Nanik mengaku baru mendapat arisan sebesar Rp 25 juta. Namun keesokan harinya Nanik dan Silvia dikabarkan hilang.

Nanik adalah teman fitness Ryan. Terakhir kali dia terlihat berada di sebuah toko emas di Jombang. Diduga, Ryan semula hanya ingin membunuh Nanik. Namun karena Silvia histeris melihat ibunya dibantai, Ryan lantas mengakhiri pula nyawa balita itu.

Dengan sekian banyak aksi pembunuhan itu, Ryan terancam hukuman mati. Dia bisa dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan 20 tahun penjara, dipenjara seumur hidup, atau dihukum mati. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira di Mabes Polri, Jakarta, Senin, mengaku yakin bahwa jeratan untuk tersangka Ryan memenuhi syarat.

"Saya kira unsur perencanaan sudah terpenuhi. Sebab, mustahil dia membunuh hingga sepuluh orang kalau tidak merencanakan terlebih dulu," kata Abubakar. Penjelasan dia bahwa korban pembantaian Ryan ini berjumlah sepuluh orang adalah sebelum polisi menemukan satu lubang lagi yang berisi satu kerangka korban.

Abubakar mengatakan, selain pasal 340 KUHP, polisi juga akan menjerat Ryan dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 339 KUHP tentang pembunuhan yang disertai dengan tindak pidana lain. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kasus Ryan, kata Abubakar, ditangani oleh kepolisian Jakarta dan kepolisian Kabupaten Jombang, karena lokasi kejadian ada di dua tempat tersebut. "Untuk kasus mutilasi nanti ditangani Polda Metro, karena kejadiannya di Jakarta Selatan. Sedangkan kasus pembunuhan berantai, dilakukan oleh Polda Jawa Timur karena kejadiannya di Jombang," katanya.

Namun, soal persidangan kasus ini, polisi, kata Abubakar, menunggu keputusan Mahkamah Agung untuk menentukan lokasinya. "Kalau melihat lokasi perkara yang lebih banyak di Jombang, saya rasa lokasi sidang akan digelar di sana. Tapi, masalah ini tergantung keputusan MA, itu bukan urusan polisi," katanya. (Antara/Hanif Sobari)

Monday, July 28, 2008

Pakar Ekonomi Dr Sjahrir Meninggal Dunia - (28 Juli 2008)

Senin, 28 Juli 2008 | 08:58 WIB

JAKARTA, SENIN - Ekonom Dr
Sjahrir yang juga pendiri Partai Perhimpunan Indonesia Baru meninggal
dunia di Singapura pukul 09.00 waktu setempat karena sakit, Senin
(28/7).

Demikian pesan layanan singkat yang diterima Kompas.com
pagi ini. "Innalilahi wainna ilahi rojiun, telah meninggal ke
rahmatullah sahabat, abang DR Sjahrir (Ciil) jam 9.00 waktu Singapore
karena sakit. Almarhum direncanakan akan dibawa ke Jakarta malam ini,"
demikian bunyi pesan singkat tersebut.

Jabatan terakhir yang
dipegang lelaki kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 24 Februari 1945 ini
adalah Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru. Ia meninggalkan
seorang istri, Kartini Panjaitan serta dua orang anak, Pandu dan Gita.

Innalilahi Wa inailaihi Rajiun


Pria tambun yang cerdas ini diangkat Presiden SBY menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Mantan aktivis dan alumni FEUI (1973) ini seorang ekonom yang juga merambah ke dunia politik dengan mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (23-9- 2002. Namun partainya yang tadinya diharap bisa menjadi penerang yang membuka jalan menyongsong Indonesia Baru, Indonesia yang demokratis, berkeadilan dan majemuk, belum berhasil meraih suara signifikan dalam Pemilu 2004.

Sebagai ekonom, Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB), ini banyak menulis buku tentang masalah kemiskinan dan kebutuhan pokok, ekonomi politik dan dunia pasar modal.

Ia sudah menjadi berita sejak demonstrasi mahasiswa menentang korupsi pada awal 1970-an. Namanya semakin tersiar setelah ia mendekam di penjara selama tiga tahun sepuluh bulan lebih akibat Peristiwa Malari, 15 Januari 1974.

Cikal bakal pendirian Partai PIB yang didukung oleh paling sedikitnya 34 orang tokoh negeri ini banyak didorong keinginan anggota dan simpatisan Yayasan Padi dan Kapas - yayasan yang diketuai oleh Sjahrir sendiri - yang berkeinginan melakukan hal konkret bagi bangsa ini. “Daripada sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan lilin, bisa jadi sinyal untuk mengubah zaman Kaliyuga dengan turut meramaikan Pemilu 2004” demikian sang deklarator mengemukakan alasan pendirian partainya.

Meskipun sudah jadi partai politik, namun Perhimpunan Indonesia Baru masih tetap menjalankan fungsinya sebagai pemantau bagi parlemen dan pemerintah. Hal mana sudah dibuktikan dengan usulan PIB sebelum menjadi partai politik, dengan mengusulkan Rancangan Ketetapan Pemulihan Ekonomi kepada MPR. Hasrat untuk bersikap oposan kepada penguasa sudah jadi tekad bulat mereka.

Sjahrir dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, 24 Februari 1945 dari ayah dan ibu keturunan minang. Menurut horoskop Cina, dia bernaung di bawah shio ayam (khe), pahlawan yang gagah berani, yang memberitahukan datangnya pagi serta dimulainya hari, dan yang menatap ke bumi kalau sedang mencari makan. Ayam tergolong binatang yang paling tidak dimengerti dan eksentrik dalam siklus Cina. Hatinya konservatif dan kuno. Warga ayam yang laki-laki, biasanya menarik. Dia adalah keluarga unggas yang berlagak bagai pangeran dan bangga akan bulu-bulunya yang bagus, gemar berdebat, dengan stamina yang mengagumkan.

Horoskop Cina itu memang cocok dengan dirinya, staminanya memang mengagumkan. Dia bisa berbicara pada empat seminar dalam sehari. Ketika hujan undangan seminar itu datang padanya, Sjahrir, yang punya kemampuan mentertawakan dirinya sendiri, ini berkata, "Gue udah jadi Dorce sekarang."

‘Ciil’ nama kecil Sjahrir seorang pria yang ramah, pintar dan berapi-api tetapi sekaligus jenaka. Bahkan Majalah Matra menulisnya " ... dalam derai tawanya, ekonom kondang ini tetap mampu menyampaikan pikiran-pikirannya dengan jernih dan jelas. Jenaka pun bisa!".

Ekonom bertubuh tambun yang digelari teman-temannya ‘si gendut’ ini memang seorang periang dan hangat bila bicara. Wartawan-wartawan ekonomi yang sering menyaksikannya tampil di seminar menyebut dia sebagai ‘orang panggung yang menguasai forum’. Masalah yang dia bicarakan sering tambah menarik karena keterampilannya mempertemukan fenomena ekonomi dan fenomena politik. Juga kemampuannya melontarkan joke juga sering membuat "Sjahrir Show" jadi berhasil.

Pria yang pandai menirukan aksen dan gaya orang berbicara ini, bisa lucu kalau dia berniat untuk kocak. Tapi ketika dia tidak berniat melawakpun, tingkah lakunya bisa dibuat jadi obyek tertawaan oleh kawan-kawannya, bahkan sering jadi bulan-bulanan.

Ada banyak cerita yang menempatkannya menjadi obyek cerita yang menggelikan. Satu di antaranya adalah pengalaman tahun 1993 silam ketika sebuah seminar di Jakarta mengundangnya jadi pembicara. Dengan pakaian lengkap: pakai jas dan berdasi dia berangkat. Di sana dia jadi salah seorang pusat perhatian. Tapi tidak disadari ada sesuatu yang tak beres pada dirinya. Ketika kembali ke kantornya di Jl. Teuku Cik Ditiro, tetap belum disadari sesuatu yang tak beres tersebut. Sekembalinya dia ke rumahnya di Pamulang dan berganti pakaian, disitulah tiba-tiba terdengar teriakan Ciil memanggil isterinya, "Waaah, Ker ... Sepatu gue beda kiri sama kanan."

Menurut cerita Ker, -panggilan Kartini, istrinya yang kemudian membocorkan pengalaman tersebut- sepatu yang dipakainya itu sama-sama cokelat. Desain sepatu itu hanya sedikit berbeda. Ketebalan tumitnya juga sedikit berbeda. Perbedaaan-perbedaan itu tidak dilihat Sjahrir ketika mengambil sepatu tersebut karena berangkat subuh sebagaimana biasa dengan terburu-buru.

Untuk meyakinkan dirinya apakah ada atau tidak orang yang memperhatikan sepatunya, dia mengingat-ingat kembali pengalamannya sepanjang siang itu, "Pantas, rasa-rasanya jalan gue kok nggak enak tadi," kata Kartini menirukan Ciil. Dia menyesalkan betul, kenapa di kantornya tidak ada orang yang melihat dan memberi tahu bahwa sepatu berbeda
Banyak cerita menggelikan mengenai dirinya. Ada yang direkam dan diedarkan kawan-kawannya sendiri di "lingkungan terbatas". Ada lagi yang bersumber dari bocoran-bocoran Kartini. Tapi tak sedikit pula yang dikarang, dan menjadikannya sebagai tokoh konyol dalam cerita itu. Teman-temannya begitu senang menjadikannya sebagai alasan untuk tertawa.


Kadang cerita itu bahkan menjadikannya sebagai orang bodoh. Seperti cerita yang beredar dari lapangan sepakbola Gelanggang Mahasiswa Kuningan. Ketika kesebelasan Betah (bekas tahanan) sering bermain bola di sana. Suatu kali dia amat senang dan berjingkrak-jingkrak setelah menendang bola ke gawang dan masuk. Padahal, kata cerita itu, gawang yang dibobolnya itu gawang dia sendiri. Ketika kepadanya diberi tahu bahwa gawang itu adalah gawangnya sendiri, dia malah ngotot, "Nggak bisa dong."

Sebenarnya dia tahu kelakuan kawan-kawannya ini, tapi agaknya dia tidak hirau betul. Dia juga mengetahui istrinya sering jadi sumber bocoran. Oleh karenanya, ketika di Yayasan Padi dan Kapas misalnya, jika dia memergoki isterinya 'ngerumpi dengan kawan-kawannya, dia pasti bertanya sembari cengar-cengir, "Cerita apa lagi, lu Ker? Lama-lama gue lihat, berbahaya lu." Kartini tenang mendengar pertanyaan seperti ini, dan menjawab dengan, "Lu kok curiga banget?!"

Lu dan gue adalah panggilan sehari-hari yang dipakai oleh suami-isteri ini. Bisnis Indonesia Minggu pernah menulis: ‘Sjahrir dan Kartini adalah pasangan yang seia dan serasi dalam kesuburan badan’.


***

Anak satu-satunya pasangan Ma'amoen Al Rasyid dan Ny. Roesma Malik ini bersama kedua orangtuanya menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Pulau Jawa: di Jakarta, Kudus, Yogyakarta, Magelang dan Surabaya. Ayahnya, Ma'amoen Al Rasyid (1904-1980), adalah pegawai BB (Binnenlandse Bestuur) dengan jabatan akhir bupati diperbantukan di Magelang, dan pernah mengenyam pendidikan kedokteran di Stovia, Jakarta. Ibunya, Ny. Roesma Malik (1915-1984), adalah pegawai Inspektorat Pendidikan Kewanitaan, Departemen P dan K, pernah mendapatkan pendidikan di Syracuse University, New York pada awal 1950-an. Ibunya ini adalah seorang wanita yang tegar, terpelajar, dan berdisiplin tinggi. Dalam hal disiplin, Sjahrir banyak dipengaruhi oleh sang bunda ini.

Dalam hal disiplin, Kartini - istrinya, pernah mengeluh bahwa melakukan perjalanan dengan suaminya itu bukan hal yang mudah, sekalipun untuk bersenang-senang. Dia akan menetapkan, harus berada di airport dua jam sebelum penerbangan, sekalipun itu untuk penerbangan domestik dan dilayani oleh perusahaan penerbangan yang sering memakai jam karet. Begitu sampai di tempat tujuan, dia biasanya segera melakukan konfirmasi pesawat untuk perjalanan berikutnya meskipun dia dapat melakukannya keesokan harinya.

Keteraturan dan kepastian waktu dilakukannya sampai dalam menghadiri pesta sekalipun. Kalau pesta dimulai pukul 19.00, bisa dipastikan dia berada di sana persis pada jam tersebut. Karena itu pula dia sering menjadi tamu pertama di pesta perkawinan, yang kadang-kala pengantinnya sendiri bahkan belum tiba di tempat perhelatan.

Suatu kali, dengan agak mengomel, dia mengatakan bahwa orang Indonesia merasa dirinya menjadi kurang penting kalau hadir atau datang tepat pada waktunya. Makin tinggi jabatan atau makin menjadi tokoh publik, makin besar kecenderungan untuk terlambat hadir. "Bagaimana mau maju? Bagaimana bisa bicara teknologi tinggi yang memerlukan presisi yang begitu rupa? Bagaimana bisa bersaing dengan luar?" katanya. Kalimat-kalimat ini biasanya dia utarakan kalau ada koleganya yang tidak menepati janji tepat pada waktunya.

Pria yang bicara dengan logat Betawi namun menurut isterinya, agak "Koto Gadang", juga "Mentengist". Disebutkan warna Koto Gadangnya agak kentara, dan " Mentengist" karena dia sering bangga akan dirinya, seperti ayam yang menurut horoskop Cina tadi bangga akan bulunya yang elok. Sebagian besar masa kecil dan remajanya memang dilewatinya dalam lingkungan keluarga ayahnya, orang Koto Gadang, Bukittinggi, seperti halnya dengan orang Koto Gadang lainnya pada 1950-an yang bertempat tinggal di Menteng mengikuti posisi mereka sebagai pejabat atau pegawai pemerintahan. Dia tinggal di rumah besar keluarga Dr.Zakir di Jl Prapatan yang sekarang menjadi Hotel Aryaduta. Ketika rumah itu dijual untuk dijadikan hotel, dia ikut pindah ke Jalan Sumbawa sampai dia menikah.

Walau disebut ‘Mentengist’, namun semasa kecil dan remaja, dia hanya anak dan remaja sederhana. Sementara anak-anak Menteng lain sering naar boven, Ciil kecil tinggal menunggu rumah. Ketika remaja Menteng mengendarai sedan Dodge Dart atau Impala, Ciil hanya ikut nebeng.

Pada saat remaja Menteng menjadi pemuka dalam fashion, Ciil tampil dengan celana khaki, kemeja putih dan sandal Bata. Kehidupan yang begitu sederhana dan kontras dengan kehidupan Menteng-Buurt tidak membuat dirinya bitter. Dia tetap ceria. Dia nikmati masa remaja dan masa mahasiswanya, akrab dengan teman-temannya dari kalangan the haves dan tidak pernah merasa kurang dari mereka.

Kementengannya itu pulalah yang membawa Ciil masuk Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta) yang hingga akhir 1960-an populer dengan salam Ahoi-nya. Imada memang menyandang kesan elite, apalagi para mahasiswa anggotanya punya motto "buku, pesta dan cinta". Mereka yang cemburu pada ormas ini menyebut Imada sebagai "ikatan mahasiswa dansa" atau "ikatan mahasiswa sepatu roda".

Sebagai aktivis mahasiswa Ciil mulai dari sini. Lewat Imada pula dia kemudian terpilih menjadi Sekjen Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Ul, tetapi kemudian kalah suara ketika mencalonkan diri untuk jadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa Ul.

Sehari-hari sekarang Sjahrir sibuk oleh pekerjaannya sebagai Managing Director pada Institute for Economic and Financial Research (Ecfin), lembaga riset yang dia rintis bersama-sama Dr. Slangor (almarhum), Dr. Mari E. Pangestu dan Adril Sulaeman, MA. Sjahrir juga menjadi Ketua Yayasan Padi dan Kapas, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat; menjadi konsultan dan penasehat pada beberapa bank perusahaan publik dan media publikasi; serta juga bergerak dalam usaha di pasar modal dan pasar uang. Sejak 1994 Sjahrir menjadi narasumber pada Dewan Sosial Politik ABRI.

Selain jadi pengajar di FEUI, Sjahrir mengajar pula di Fakultas Pasca Sarjana, UI, Jurusan Ekonomi; Program Magister Management, Universitas Airlangga, Surabaya, dan pengajar di Lembaga Studi Ilmu Sosial. Sjahrir tamat dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1973.

Setelah beristirahat di penjara selama tiga tahun sepuluh bulan lebih, akibat Peristiwa 15 Januari 1974, dia menikah dengan Kartini Panjaitan (1977) dan kemudian berangkat ke Boston, Amerika Serikat untuk program pasca sarjana. Tahun 1980 dia mendapatkan gelar Master in Public Administration (MPA) dari J.F. Kennedy School of Government, Harvard University. Tiga tahun kemudian, 1983, masih dalam status tahanan politik dia memperoleh gelar Ph.D dalam Political Economy and Government, dari Harvard University, dan pulang ke Indonesia.

Ketika di Boston itu pulalah dua anak mereka lahir: Pandu dan Gita. Pandu telah lulus dari University of Chicago dengan major economics dengan gelar BA dan sekarang bekerja pada Lehman Brothers di Hong Kong. Gita telah menamatkan SMU di Phillips Academy di Andover dan bahkan telah menjadi mahasiswi di University of Chicago. Dari sikapnya terhadap kedua kedua anaknya, kata Kartini, terlihat bagaimana dia melihat pendidikan, yang menurut Ciil harus melahirkan manusia professional. Profesionalisme menciptakan kompetisi. Kompetisi menghasilkan produk unggul dan inovasi. Manusia Indonesia mendatang adalah manusia yang siap bertarung di pasar tenaga kerja dunia.

Sejak dini dia tanamkan pada anak-anaknya bahwa yang akan mereka warisi dari dirinya hanyalah pendidikan yang terbaik dan watak. Sikap tegasnya ini cukup tampak pada kedua anaknya, yang percaya bahwa kelak mereka harus mencari hidupnya sendiri. Pandu, misalnya, tumbuh menjadi anak yang sangat sederhana, rendah hati dan apa adanya. Bagi Pandu tidak jadi soal ikut orangtuanya ke pusat perbelanjaan dengan memakai kaus yang jahitan pada bagian ketiaknya lepas. Karena dia memang begitu, ibunya hanya bisa mengingatkan agar Pandu jangan sekali-kali mengangkat tangannya.

Isteri dan anak adalah inti kehidupan bagi Ciil. Ini mungkin datang dari latar belakang kehidupannya di masa kecil, yang tidak mengalami kebahagiaan seperti anak-anak lain pada masanya. Isteri dan kedua anaknya mendapat perhatian yang khusus dalam pengertian yang sesungguhnya dari dia. "Ini kerap membuat kami terharu," kata Kartini. Kartini, doktor dalam bidang antropologi, adalah dosen pasca sarjana di Universitas Indonesia. Anak-anaknya dia anjurkan membaca sebanyak mungkin. Gita, misalnya, diberi PR antara lain membaca The Jakarta Post setiap hari. Si anak, yang sering kali lupa membaca, kadang-kadang kelihatan agak jengkel setiap kali ditanya. Begitupun, Ciil tetap saja pada pendapatnya, Gita mesti membaca koran. Tidak cukup dengan itu, dia akan menyodorkan suratkabar itu ke hadapan si anak.

Di samping memberi tugas seperti ini, dia juga senantiasa menyediakan waktu berbicara mengenai apa saja, khususnya ilmu ekonomi dengan Gita. Ini biasanya terjadi pada saat dia sedang duduk ngelonjor pakai sarung dan mengenakan kaus oblong sembari menonton televisi. Gita duduk di pangkuannya. Lalu dia mulai mengajar puterinya itu mengenai: sistem ekonomi, mengenai perbankan, pasar dan koperasi. Cara penyampaiannya dibuat begitu sederhana disertai dengan contoh-contoh kasus, sehingga tidak mengherankan pengetahuan dan pemahaman Gita mengenai ilmu ekonomi dan koperasi cukup mendalam.

Ciil tampaknya punya keinginan besar untuk mewariskan pengetahuannya kepada Gita ketimbang Pandu. Itu mungkin karena dia melihat bahwa minat Pandu yang terbesar hingga saat ini adalah matematika-fisika dan menulis cerita pendek. Tapi Gita sendiri kalau ditanya ingin jadi apa kelak, menjawab "ingin jadi pemain drama". Apakah punya cita-cita menjadi ekonom seperti ayahnya? Jawabannya, "Tidak', selama dia masih mungkin jadi penari atau pemain drama.

Dengan Pandu, Ciil banyak berbicara mengenai berbagai literatur dari kelas sastra sampai dengan kelas picisan, juga tentang permainan basket NBA, kegemaran mereka berdua. Ciil membiasakan kedua anaknya untuk sering menulis apa saja yang dilihat, didengar dan dipikirkan. Agaknya, kesukaannya menulis turun pada kedua anaknya, terutama Pandu.

Kegiatan menulis, lazimnya berpasangan dengan membaca. Dalam urusan membaca ini, menurut cerita, pada usia delapan tahun Ciil sudah membaca sembilan suratkabar setiap hari. Kini dia berlangganan sedikitnya 11 koran dan selusin majalah, baik dalam maupun terbitan luar negeri.
Secara rutin dia membaca book review di The New York News dan New York Times Review of Books, secara periodik membeli jurnal ilmiah seperti Daedalus. Dia juga membaca dan mengumpulkan puluhan novel dari yang 'rada picisan' sampai yang bernilai sastra. Tidak berhenti pada novel, Ciil punya kegemaran khusus, mengumpulkan buku-buku yang berisi nasehat atau lelucon, baik yang disajikan dalam bentuk syair maupun cerita.

Kumpulan buku nasehat yang disukainya dan tetap dibaca hingga sekarang, ditaruhnya di salah satu rak di dekat meja mejanya: The Book of Virtues karangan William Bennett dan Letter to Sabine.

Ciil juga gemar membeli majalah mengenai permainan basket, majalah mengenai mobil dan motor. Begitu juga majalah ringan seperti Jakarta-Jakarta, dan Humor. Kapan dia punya waktu untuk membaca semua itu? Kapan-kapan saja, dan pada setiap tempat. Itu sebabnya, ke mana saja dia bepergian, jauh atau dekat, ke kantor atau ke luar negeri bacaan selalu ada di dekatnya. Buku itu belum tentu dibaca di tempat tujuan, apalagi kalau dia terlalu lelah atau kekenyangan. Tetapi dia bagaikan terasa menikmati sesuatu jika buku itu terus ada di dekatnya.

Siapa pun yang berkunjung ke rumah atau ke kantornya akan menemukan tumpukan buku di mana-mana. Sekretarisnya --Poppy Soeyono-- selalu khawatir kalau-kalau buku di rak di belakang dan di samping meja kerjanya jatuh menimpa Ciil, karena rak tersebut sudah kelebihan beban.

Tumpukan buku yang mengelilinginya itu tak pernah dapat mengendurkan niatnya untuk mengurangi kehausannya membeli buku. Yang paling runyam adalah kalau dia pergi ke luar negeri, khususnya ke Boston. Dapat dipastikan dia memborong 60 sampai 100 judul setiap kali pergi. Buku baginya seperti pil Ecstacy. Begitu tiba di Jakarta, buku-buku dan majalah yang baru dibelinya itu dia keluarkan dan dia susun rapi di lantai. "Lalu ia duduk bersila memakai sarung," kata Kartini, "dan dengan mata berbinar Ciil mengelus-elus buku yang baru dibelinya itu satu per satu."

Menurut Kartini, kesukaan Ciil mengoleksi buku bukanlah hal yang istimewa. "Sama seperti kesenangan mengoleksi perangko, lukisan dan atau barang kerajinan," katanya. Ker tidak pernah mengaitkan soal kesenangan mengoleksi buku itu dengan bobot ilmiah seseorang.

Yang jelas, Ciil keranjingan akan buku, dan kembali ke horoskop Cina, sebagai ayam dia adalah tukang diskusi yang bisa alot. Ketika bersekolah di SMA Kanisius dia turut mendirikan kelompok diskusi. Semasa mahasiswa dia sering mengganggu teman-teman wanitanya dengan pertanyaan, "Kenapa sih lu nggak ikut diskusi?" Ciil punya penghargaan dan kekaguman khusus pada wanita yang menuntut ilmu, berkarir dan bekerja. Dia menyadari akan adanya ketidak-adilan sikap terhadap kaum wanita, dalam hampir setiap segi kehidupan, seperti yang pernah dia lihat pada pengalaman ibunya.

Ciil akan bersuara rendah, berbicara agak pelan, dan terkadang terasa seperti kiyai, jika dia berbicara menyangkut hal-hal yang filosofis. Kelihatannya dia berbakat jadi dai. Suatu kali dia berkata, jangan suka membuat ilusi mengenai diri sendiri dan masyarakat. "Sindroma tokoh", katanya, "adalah musuh utama kerja produktif'. Seseorang yang dihinggapi sindroma tokoh, menurut Ciil, sulit untuk bisa menerima perubahan yang terjadi, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sindroma tokoh membawa seseorang hanya ingin mendengar dan membenarkan dirinya sendiri, serta mengharapkan untuk dilayani dan ingin kembali pada kejayaan masa lampau.

***
Ada hal yang "gawat" pada Ciil, yakni makan sebagai hobi beratnya. Orang biasanya berkata "makan untuk hidup". Untuk Ciil ungkapan ini harus dibalik. Kalau melihat 'load" makannya, orang akan berkesimpulan, dia hidup untuk makan. Dia sangat suka makan, dan cenderung memaksa orang lain yang makan bersamanya melahap porsi yang sama dengan yang dia makan. Seorang stafnya yang agak kikuk dan merasa tidak enak untuk mengatakan "sudah cukup", sampai meringis-meringis kekenyangan ketika mengikuti Ciil untuk suatu pertemuan di Bali.

Ciil berbakat jadi pemandu di meja makan. Hanya saja kadang-kadang dia bisa seperti teroris yang menghujani kawan makannya dengan kata; "Ini nih! Udah coba ini? Enak nih! Ayo dong. Ambil aje semuanya!" Berbagai cara diet yang disarankan teman-teman dekatnya hanya memperoleh tempat yang marginal di hatinya. Jika dia terlambat makan atau makan di bawah "kapasitas terpasang" perutnya, produktivitasnya anjlok. Itulah sebabnya makan dan menulis bagi Ciil adalah dua hal yang saling melengkapi secara sempurna.

Setiap kali ada acara di rumah ataupun di kantornya, pasti ada kegiatan makan bersama. Tidak ada satu masakan pun yang membuat dia terdengar kecewa. Semua, enak! Masih untuk urusan yang satu ini, dia pernah mengeluh pada Kartini, karyawan wanita di kantornya kurus-kurus. "Kayak jarum pentul," katanya. Agar para karyawan ini lebih gemuk sedikit, dia keluarkan "kebijaksanaan" baru, menyediakan makan pagi yang terdiri dari roti, telur, susu, kacang ijo, dan nasi goreng bagi karyawan sekantor. Hasilnya, mengejutkan. Para karyawan wanita itu malah makin kurus. Kenapa? Stress, dipaksa makan pagi dengan menu 4 sehat 5 bengep.

Sebagai "sang ayam" yang agak konservatif Ciil memulai hari-harinya pukul 6 pagi, diawali dengan membaca suratkabar. Katanya, bangun pagi membuat otak segar, dan periuk nasi cepat terisi. Sering terjadi, pada pukul 7 dia sudah mulai mendiktekan tulisannya pada sekretarisnya, Poppy Soeyono, yang merekamnya di komputer.

Sebetulnya belakangan ini Ciil tidak pernah menulis dalam arti sesungguhnya, karena hampir semua makalahnya adalah hasil dikte. Satu makalah bisa selesai dalam satu jam atau 90 menit. Dia menganggap cara ini sangat efektif dan hasilnya jauh lebih memuaskan, karena apa yang dipikirkannya keluar sama cepatnya dengan apa yang diucapkannya.

Selama ini dia merasa bahwa ide yang akan dituangkannya sering terhambat karena dia harus menuliskannya sendiri, padahal kecepatannya menulis jauh lebih rendah dari kecepatannya berpikir. Karena itulah dikte lebih disukainya setiap membuat tulisan apakah itu berupa memo bagi masukan suatu kebijakan atau makalah. Rata-rata ada 10 makalah dan 10 memo setiap bulannya. Cukup sering terjadi dia menulis 3 makalah dalam sehari. Pernah dalam perjalanan ke airport, dia masih mendiktekan tulisan ke sekretarisnya melalui telefon. Pada puncak era pemekaran pasar modal, dia pernah berseminar 25 kali dalam sebulan dan semuanya memerlukan makalah. Ciil pernah berkata, "I write, I exist".

Sebelum 1992, dia menulis dengan mempergunakan kertas buram dengan ballpoint atau pulpen. Biasanya kerja menulis ini diselingi oleh tidur di kursi. Dia memang punya kebiasaan untuk tidur di mana saja, kapan saja, meskipun untuk beberapa saat. Batas antara menulis-tidur-menulis ini begitu tipisnya. Dia sanggup segera memegang pulpennya dan memulai kalimat baru begitu terbangun, dan sebaliknya.

Ketika terbangun pertanyaan yang sering dia ajukan adalah, "Gue ngorok nggak?" Pertanyaan ini sulit untuk dijawab, walaupun Ciil mendengkur waktu tidur, di kursi sekalipun. Kalau dijawab "tidak" dia akan menunjukkan reaksi tidak percaya. Jika dijawab "ya", dia malah balik bertanya, "Masa .... coba tiruin kayak apa gue ngorok".

Kini dia tak punya kesempatan tidur di saat mendikte. Kata Kartini, sekarang dia bahkan lebih 'nekad', pulang ke rumah yang jaraknya hanya lima menit perjalanan dari kantor untuk tidur siang, jika ada waktu.

Belakangan ini dia sangat suka dengan pulpen Mont Blanc dan kalau bisa yang limited edition. Apa sebab Ciil begitu snob dalam soal pulpen? Mungkin hal ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah mampu mengetik, dan buta teknologi komputer. Dia begitu asing dengan kedua teknologi ini. Seorang sahabatnya, pernah berkata, Ciil tak bisa mengetik karena tuts mesin tik terlalu kecil untuk jarinya yang begitu besar. Setiap kali dia menekan satu huruf, yang kena dua huruf sekaligus.

Dia memang buta teknologi, tapi kini dia asyik mempelajari mobil. Selain berlangganan berbagai majalah otomotif dalam dan luar negeri, Ciil juga rajin mendatangi pameran mobil yang menawarkan teknologi mutakhir. Kesenangannya ini seringkali membuat orang-orang yang dekat dengan dia geleng-geleng kepala, terutama isterinya. Kesenangan ini pula yang antara lain menimbulkan sinisme dari sejumlah orang yang menganggap Ciil sudah "lupa perjuangan", "materialistis", "gembel yang baru punya mobil", dan komentar sumbang lainnya. Komentar itu sampai juga ke kupingnya, dan Ciil hanya menjawab, "Kalau lu bukan apa-apa, jangankan dikomentarin, ditoleh pun lu kagak!"

Dalam hal teknologi dan produk baru, dia paling mudah jadi korban. Suatu kali Ciil dan Kartini pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Sebentar mereka terpisah, dan setelah itu Kartini menemukan Ciil ada di toko kacamata. Tampaknya, kata Kartini, dia sedang kena rayuan. Kacamata itu dia beli. Mahal. Padahal, baik untuk membaca mau pun untuk menulis sampai kini dia tak memerlukan benda itu. Keesokan harinya, kacamata itu dia bawa ke kantor. Di kamar kerjanya, sekali-sekali kacamata itu dia pakai, dan meminta komentar banyak orang, "Bagus nggak?!" Tapi itu hanya terjadi dua hari. Setelah itu kaca mata tadi tinggal tersimpan di laci.

Pada hari yang lain, dia hilang dari kantornya. Stafnya tahu dia tak punya acara apa pun di luar. Satu jam kemudian dia kembali. Dia baru saja dari Jl. Sabang --daerah pertokoan-- dan di sana dia membeli kamera polaroid. Ciil kemudian praktek memotret di kantor, dengan kagok, karena dia harus mengingat-ingat kembali instruksi si penjual tentang cara memakai kamera itu. Jepret! Pelan-pelan kertas foto itu keluar, didiamkan sebentar, ... nah fotonya jadi. Ciil tersenyum puas, dan bagaikan terpesona betul oleh teknologi polaroid itu, yang sebenarnya tidak lagi baru.

Belakangan ini dia masih sering tampil dalam berbagai seminar menularkan semangat dan idenya bagi pemulihan dan kemajuan bangsa ini. Di usianya yang ke-59 akhir bulan Februari 2004 ini, ia masih memiliki segudang harapan sambil terus melangkah menyosong Indonesia Baru yang sudah lama diimpikannya.

►atur/juka

Sunday, July 27, 2008

YENNY WAHID TERGUSUR

Jumat, 25/07/08, 18:34:24 WIB



Ketua DPP PKB versi MLB Ancol Abdul Kadir Karding (tengah) menyerahkan SK perubahan kepengurusan DPP PKB dari Menteri Hukum dan HAM kepada KPU yang diterima anggota Syamsulbahri (kiri), disaksikan Andi Nurpati, di kantor KPU, Kamis (24/7). Dalam SK tersebut, secara sah diakui bahwa kepemimpinan DPP PKB adalah Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen Lukman Edy, bukan Yenny Wahid. TRI MUJOKO BAYUAJI/JAWA POS

Baca berita:

YENNY WAHID TERGUSUR

Jumat, 25/07/08, 18:34:24 WIB



Ketua DPP PKB versi MLB Ancol Abdul Kadir Karding (tengah) menyerahkan SK perubahan kepengurusan DPP PKB dari Menteri Hukum dan HAM kepada KPU yang diterima anggota Syamsulbahri (kiri), disaksikan Andi Nurpati, di kantor KPU, Kamis (24/7). Dalam SK tersebut, secara sah diakui bahwa kepemimpinan DPP PKB adalah Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen Lukman Edy, bukan Yenny Wahid. TRI MUJOKO BAYUAJI/JAWA POS

Baca berita:

Aburizal Bakri Mantu



Resepsi pernikahan ponakan Aburizal Bakrie, Adinda dan Seng-Hong Ong yang berlangsung Sabtu malam (25/7) di Hotel Mulia, Senayan berlangsung meriah dan super wah! Resepsi keluarga orang terkaya di Indonesia itu tak pelak mengundang kontroversi. Sebab, ayah dari Adinda, Indra Bakrie adalah pemilik PT Lapindo Brantas Inc yang saat ini masih punya dosa terhadap ratusan warga tiga desa di Sidoarjo karena belum juga mendapat ganti rugi. IWAN UNGSI / JAWA POS

Tak Ada Kata Maaf dari Ryan

[ Jum'at, 25 Juli 2008 ]

WONOGIRI - Sudah menghilangkan nyawa masih membuat geram keluarga. Itu dilakukan Verri Idam Heniansyah alias Ryan, pelaku mutilasi dan pembunuhan di Jakarta dan Jombang, terhadap keluarga salah satu korbannya.

Keluarga Vincenstius Yudi Priyono, 31, warga RT 2 RW 3 Dusun Bendorejo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri kota sama sekali tidak melihat penyesalan di diri Ryan. Keluarga Vincenst memang sempat bertemu Ryan di Surabaya, Rabu (23/7) siang lalu.

Dalam perjumpaan singkat itu, tidak ada ucapan maaf atau kata-kata bernada menyesal dari mulut Ryan. Ungkapan geram pun meluncur dari bibir Sri Sumiyati, 50, ibu kandung Vincenst kepada koran ini, tadi malam (24/7).

Saat koran ini tiba di rumah --yang hanya beberapa meter dari pinggiran Waduk Gajah Mungkur (WGM) itu-- Sri Sumiyati dan suaminya (ayah tiri Vincenst) Sukatno, 53, dan Sulistyanto, 35, kakak kandung Vincenst sedang duduk di ruang depan.

Mereka menemui salah satu kerabat dari Solo. Meski belum mengadakan acara apapun, penataan ruang depan rumah itu sudah berubah. Etalase rumah makan dan beberapa barang lain, termasuk bangku yang semula di sana, disingkirkan. Sebagai gantinya dihamparkan tikar untuk tempat duduk-duduk. "Kami tiba tadi (dinihari kemarin) sekitar pukul 02.30," kata Sri Sumiyati dan Sukatno.

Guratan kesedihan tampak jelas diwajah mereka, namun dalam perbincangan, pasangan ramah itu sudah berulangkali mengumbar senyum dan tawa. Dibanding orang tuanya, rona duka di muka Sulistyanto lebih nampak. Selama perbincangan dia juga berulangkali menerima telepon. "Bersamaan dengan kejadian ini (dugaan tewasnya Vincenst) nenek dari keluarga istri saya juga meninggal, Mas," kata dia.

Ditanya bagaimana perasaannya saat ketemu Ryan. Sri Sumiyati menjawab sulit melukiskannya. Saking beratnya menahan emosi, dia mengaku hanya bisa menjerit. Sukatno juga mengaku memendam amarah. "Saat ketemu itu, tersangka (Ryan) hanya melirik, tidak ada ucapan sama sekali," tandas dia.

Dari semua keluarga yang ke Surabaya. Sulityanto mengaku merasakan gelora batin paling berat. "Untung kami ketemu (dengan Ryan) siang. Kalau ketemunya pagi mungkin saya tidak bisa menahan diri. Siangnya, saya berpikir daripada tambah masalah mending menahan emosi," akunya.

Sepulang dari Surabaya, Sri Sumiyati mengatakan 90 persen yakin salah satu jasad korban keganasan Ryan adalah anak ketiganya. Pasalnya, penjelasan ciri-ciri korban dari polisi sama persis dengan Vincenst. Foto yang ditunjukkan polisi, juga jelas foto Vincenst.

Perasaan keluarga semakin kuat saat mereka diminta mengenali barang yang ditemukan polisi di kamar Ryan. Mereka mengenali helm, tas pinggang, sandal jepit dan jaket milik Vincenst. "Sandal jepit dan jaket anak saya warnanya oranye, persis yang ditemukan di kamar Ryan," jelas Sumiyati.

Meski Sumiyati mengaku yakin, polisi belum membolehkan mereka membawa pulang jasad yang diduga anaknya itu. Jenazah baru boleh dibawa pulang setelah hasil tes DNA keluar. Polisi, kata mereka, menjanjikan tes DNA paling lambat selesai 2 pekan.

Meski secara fisik belum ada persiapan penyambutan jenazah sama sekali. Sumiyati sudah mulai mengoordinasikan rencana pemakaman Vincenst. Sumiyati minta pendapat saudara dan kerabat. Pasalnya, keluarga besar mereka mayoritas muslim.

Tetapi beberapa tahun lalu, Yudi pindah agama dan menggunakan nama baptis Vincenstius. "Saat Vincenst niat bunuh diri sampai koma 7 jam dulu, dia pernah pesan kalau mati agar dikubur dengan cara Katolik," ungkap Sumiyati.

Mengingat wasiat anaknya, Sumiyati mengatakan, saat ini dirinya mulai membicarakan tata cara penguburan Vincenst. Sebelum Vincenst diduga kuat jadi korban pembantaian, ternyata keluarga sudah pernah was-was terhadap nasibnya.

Itu terjadi Februari lalu, saat Vincenst harus keluar dari perusahaan kredit elektronik dan funiture Courts cabang Jombang. Lantaran, perusahaan tempatnya bekerja tidak jalan. Beberapa hari setelah Vincenst mengabarkan dirinya keluar dari perusahaan, keluarga tidak bisa lagi menghubunginya. "Setiap kali saya telepon, panggilan selalu dialihkan," kata Sulistyanto.

Hal itu membuat keluarga cemas. Sebab putus kontak itu hanya terjadi selang sebulan setelah Vincenst berniat bunuh diri menenggak racun serangga. Informasi yang diperoleh koran ini dari keluarga, Vincenst nekat lantaran patah hati pasangannya akan menikah dengan wanita. Saking waswasnya, keluarga mencari paranormal. "Saat itu, paranormal yang saya datangi mengatakan, Vincenst berada di rumah agak mewah bersama 5 pria dan 1 wanita. Mungkin saat itu, adik saya belum dibunuh," terang Sulistyanto.

Meski sudah berupaya maksimal, keluarga tak berhasil menemukan Vincenst sampai ada kabar buruk Vincenst jadi korban pembunuhan berantai. Sumiyati dan Sulistyanto mengakui, selama ini tidak bisa menyelami Vincenst lantaran pribadinya sangat tertutup.

Seperti diberitakan, penyidikan kasus pembunuhan mutilasi terhadap Heri Santoso, 12 Juli lalu, melebar ke Jombang, Jatim. Sebab, tersangka Ryan kepada petugas mengaku pernah membunuh di kampung halamannya itu.

Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya bersama jajaran Polres Jombang menggali kebun belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang.

Hasilnya, setelah menggali lebih dari 5 jam, petugas menemukan empat jasad korban. Nama-nama mereka adalah Guntur, warga Nganjuk; Ariel, warga Cimanggis, Depok; Grendy, warga Negara Belanda; dan Vincent, asal Solo.

Selasa kemarin (22/7) pukul 15.00 keluarga Sumiyati ditelepon mendapatkan kabar dari kepolisian. Intinya, Yudi Priyono alias Vincenst telah diduga sebagai salah satu korban pembunuhan berantai yang dilakukan Verry Idam Heryansyah alias Ryan di Jombang. (ito/tej)

Tak Ada Kata Maaf dari Ryan

[ Jum'at, 25 Juli 2008 ]

Tak Ada Kata Maaf dari Ryan

WONOGIRI - Sudah menghilangkan nyawa masih membuat geram keluarga. Itu dilakukan Verri Idam Heniansyah alias Ryan, pelaku mutilasi dan pembunuhan di Jakarta dan Jombang, terhadap keluarga salah satu korbannya.

Keluarga Vincenstius Yudi Priyono, 31, warga RT 2 RW 3 Dusun Bendorejo, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri kota sama sekali tidak melihat penyesalan di diri Ryan. Keluarga Vincenst memang sempat bertemu Ryan di Surabaya, Rabu (23/7) siang lalu.

Dalam perjumpaan singkat itu, tidak ada ucapan maaf atau kata-kata bernada menyesal dari mulut Ryan. Ungkapan geram pun meluncur dari bibir Sri Sumiyati, 50, ibu kandung Vincenst kepada koran ini, tadi malam (24/7).

Saat koran ini tiba di rumah --yang hanya beberapa meter dari pinggiran Waduk Gajah Mungkur (WGM) itu-- Sri Sumiyati dan suaminya (ayah tiri Vincenst) Sukatno, 53, dan Sulistyanto, 35, kakak kandung Vincenst sedang duduk di ruang depan.

Mereka menemui salah satu kerabat dari Solo. Meski belum mengadakan acara apapun, penataan ruang depan rumah itu sudah berubah. Etalase rumah makan dan beberapa barang lain, termasuk bangku yang semula di sana, disingkirkan. Sebagai gantinya dihamparkan tikar untuk tempat duduk-duduk. "Kami tiba tadi (dinihari kemarin) sekitar pukul 02.30," kata Sri Sumiyati dan Sukatno.

Guratan kesedihan tampak jelas diwajah mereka, namun dalam perbincangan, pasangan ramah itu sudah berulangkali mengumbar senyum dan tawa. Dibanding orang tuanya, rona duka di muka Sulistyanto lebih nampak. Selama perbincangan dia juga berulangkali menerima telepon. "Bersamaan dengan kejadian ini (dugaan tewasnya Vincenst) nenek dari keluarga istri saya juga meninggal, Mas," kata dia.

Ditanya bagaimana perasaannya saat ketemu Ryan. Sri Sumiyati menjawab sulit melukiskannya. Saking beratnya menahan emosi, dia mengaku hanya bisa menjerit. Sukatno juga mengaku memendam amarah. "Saat ketemu itu, tersangka (Ryan) hanya melirik, tidak ada ucapan sama sekali," tandas dia.

Dari semua keluarga yang ke Surabaya. Sulityanto mengaku merasakan gelora batin paling berat. "Untung kami ketemu (dengan Ryan) siang. Kalau ketemunya pagi mungkin saya tidak bisa menahan diri. Siangnya, saya berpikir daripada tambah masalah mending menahan emosi," akunya.

Sepulang dari Surabaya, Sri Sumiyati mengatakan 90 persen yakin salah satu jasad korban keganasan Ryan adalah anak ketiganya. Pasalnya, penjelasan ciri-ciri korban dari polisi sama persis dengan Vincenst. Foto yang ditunjukkan polisi, juga jelas foto Vincenst.

Perasaan keluarga semakin kuat saat mereka diminta mengenali barang yang ditemukan polisi di kamar Ryan. Mereka mengenali helm, tas pinggang, sandal jepit dan jaket milik Vincenst. "Sandal jepit dan jaket anak saya warnanya oranye, persis yang ditemukan di kamar Ryan," jelas Sumiyati.

Meski Sumiyati mengaku yakin, polisi belum membolehkan mereka membawa pulang jasad yang diduga anaknya itu. Jenazah baru boleh dibawa pulang setelah hasil tes DNA keluar. Polisi, kata mereka, menjanjikan tes DNA paling lambat selesai 2 pekan.

Meski secara fisik belum ada persiapan penyambutan jenazah sama sekali. Sumiyati sudah mulai mengoordinasikan rencana pemakaman Vincenst. Sumiyati minta pendapat saudara dan kerabat. Pasalnya, keluarga besar mereka mayoritas muslim.

Tetapi beberapa tahun lalu, Yudi pindah agama dan menggunakan nama baptis Vincenstius. "Saat Vincenst niat bunuh diri sampai koma 7 jam dulu, dia pernah pesan kalau mati agar dikubur dengan cara Katolik," ungkap Sumiyati.

Mengingat wasiat anaknya, Sumiyati mengatakan, saat ini dirinya mulai membicarakan tata cara penguburan Vincenst. Sebelum Vincenst diduga kuat jadi korban pembantaian, ternyata keluarga sudah pernah was-was terhadap nasibnya.

Itu terjadi Februari lalu, saat Vincenst harus keluar dari perusahaan kredit elektronik dan funiture Courts cabang Jombang. Lantaran, perusahaan tempatnya bekerja tidak jalan. Beberapa hari setelah Vincenst mengabarkan dirinya keluar dari perusahaan, keluarga tidak bisa lagi menghubunginya. "Setiap kali saya telepon, panggilan selalu dialihkan," kata Sulistyanto.

Hal itu membuat keluarga cemas. Sebab putus kontak itu hanya terjadi selang sebulan setelah Vincenst berniat bunuh diri menenggak racun serangga. Informasi yang diperoleh koran ini dari keluarga, Vincenst nekat lantaran patah hati pasangannya akan menikah dengan wanita. Saking waswasnya, keluarga mencari paranormal. "Saat itu, paranormal yang saya datangi mengatakan, Vincenst berada di rumah agak mewah bersama 5 pria dan 1 wanita. Mungkin saat itu, adik saya belum dibunuh," terang Sulistyanto.

Meski sudah berupaya maksimal, keluarga tak berhasil menemukan Vincenst sampai ada kabar buruk Vincenst jadi korban pembunuhan berantai. Sumiyati dan Sulistyanto mengakui, selama ini tidak bisa menyelami Vincenst lantaran pribadinya sangat tertutup.

Seperti diberitakan, penyidikan kasus pembunuhan mutilasi terhadap Heri Santoso, 12 Juli lalu, melebar ke Jombang, Jatim. Sebab, tersangka Ryan kepada petugas mengaku pernah membunuh di kampung halamannya itu.

Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya bersama jajaran Polres Jombang menggali kebun belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang.

Hasilnya, setelah menggali lebih dari 5 jam, petugas menemukan empat jasad korban. Nama-nama mereka adalah Guntur, warga Nganjuk; Ariel, warga Cimanggis, Depok; Grendy, warga Negara Belanda; dan Vincent, asal Solo.

Selasa kemarin (22/7) pukul 15.00 keluarga Sumiyati ditelepon mendapatkan kabar dari kepolisian. Intinya, Yudi Priyono alias Vincenst telah diduga sebagai salah satu korban pembunuhan berantai yang dilakukan Verry Idam Heryansyah alias Ryan di Jombang. (ito/tej)

Blog Archive